oleh

Jejak Taliwang dalam Buku Belanda: Kisah 120 Korban Kapal Karam di Sumbawa

Nama Taliwang ternyata telah tercatat dalam literatur Belanda lebih dari satu abad lalu. Dalam buku De Schillekinderen en andere verhalen karya Nannie van Wehl yang diterbitkan pada tahun 1916, Taliwang digambarkan sebagai sebuah kota penting di Pulau Sumbawa yang menjadi tujuan sekaligus harapan terakhir bagi lebih dari seratus korban kapal karam yang berjuang menyelamatkan diri di tengah keterasingan.

Kisah tersebut bermula dari sekelompok penumpang dan awak kapal yang berhasil selamat setelah kapal mereka karam di perairan sekitar Sumbawa. Dengan kondisi fisik yang lemah akibat kelelahan, lapar, dan haus, mereka memulai perjalanan panjang menembus hutan belantara dan pegunungan yang belum mereka kenal.

Di tengah rombongan terdapat seorang gadis muda bernama Nonnie. Meski harus berjalan dengan sandal tipis yang mulai rusak karena medan berbatu, ia tetap menunjukkan semangat dan keceriaan. Sikapnya yang tabah menjadi penyemangat bagi seluruh rombongan yang tengah berjuang bertahan hidup.

Sang kapten bahkan sempat berkelakar bahwa ia berharap Nonnie tidak akan pernah lagi mengalami pelayaran yang berakhir dengan musibah seperti itu. Namun gadis tersebut hanya tersenyum dan tertawa kecil, seolah ingin menenangkan kecemasan semua orang di sekitarnya.

Perjalanan berat itu terus berlanjut. Rasa lapar dan haus semakin terasa, tetapi para korban kapal karam berusaha menahannya. Mereka saling menguatkan karena satu hal yang masih memberi harapan: tanda-tanda keberadaan manusia mulai ditemukan.
Menjelang tengah hari, rombongan memasuki kawasan hutan yang di dalamnya terdapat ladang-ladang padi. Pohon-pohon besar telah ditebang untuk membuka lahan tanam.

Namun sawah yang berada di dataran rendah itu sedang tergenang air sehingga hasil panennya belum dapat dimanfaatkan. Meski demikian, keberadaan ladang tersebut memberi secercah optimisme karena menandakan bahwa permukiman penduduk tidak lagi jauh.

Harapan itu akhirnya terjawab keesokan harinya. Setelah berjalan hampir sepanjang hari dengan hanya sedikit waktu untuk beristirahat, mereka melihat sebuah kampung di dekat aliran sungai.

“Di sana ada manusia, di sana ada pertolongan.”
Begitulah perasaan yang muncul di antara para korban ketika melihat tanda kehidupan tersebut.

Dengan langkah tergesa-gesa mereka mendekati kampung itu. Kedatangan rombongan besar yang muncul dari arah hutan segera menarik perhatian penduduk setempat. Mula-mula penduduk tampak ketakutan. Mereka keluar dari rumah masing-masing dan berkumpul di pintu masuk kampung sambil menunjuk-nunjuk ke arah rombongan asing yang datang.

Keheranan mereka semakin besar ketika melihat adanya orang-orang Eropa di antara para pendatang. Menurut catatan dalam buku tersebut, peristiwa itu merupakan kali kedua dalam ingatan penduduk kampung terpencil tersebut melihat orang kulit putih datang ke wilayah mereka.

Meski sempat diwarnai rasa curiga dan ketakutan, tidak terjadi permusuhan. Komunikasi perlahan terjalin melalui bahasa isyarat, ditambah beberapa kata dalam bahasa Sumbawa dan bahasa Timor yang dipahami oleh kedua belah pihak.

Kampung itu bernama Garanatah. Sebuah perkampungan kecil yang hanya terdiri dari lima rumah dengan jumlah penduduk sekitar delapan puluh jiwa.
Dari penduduk Garanatah inilah para korban kapal karam pertama kali mendengar kabar yang menghidupkan kembali harapan mereka. Penduduk menunjuk ke arah sebuah gunung besar dan menjelaskan bahwa di balik pegunungan tersebut terdapat sebuah kota bernama Taliwang.

Taliwang pada masa itu dikenal sebagai kota yang memiliki garnisun militer serta berbagai fasilitas yang dibutuhkan oleh para korban kapal karam untuk bertahan hidup, mulai dari persediaan makanan, minuman, pakaian, hingga tempat berlindung.

Penduduk Garanatah menjelaskan bahwa Taliwang masih berjarak sekitar lima hingga tujuh hari perjalanan dari kampung mereka. Senyum yang sempat muncul di wajah para korban perlahan memudar ketika menyadari bahwa perjuangan mereka belum berakhir.

Meski hidup dalam keterbatasan, penduduk Garanatah menunjukkan kemurahan hati yang luar biasa. Sebuah rumah dikosongkan agar para korban dapat beristirahat dengan layak. Mereka juga menyediakan beras, ayam, dan garam untuk sekitar 120 orang yang selamat dari musibah tersebut.

Bagi penduduk kampung kecil itu, bantuan tersebut bukanlah pemberian yang ringan. Mereka menyerahkan sebagian besar persediaan yang mereka miliki kepada para tamu yang bahkan belum mereka kenal.

Sebagai bentuk terima kasih, sang kapten memberikan beberapa keping uang perak yang berhasil diselamatkannya dari kapal yang karam. Namun ia memahami bahwa bantuan penduduk kampung itu jauh lebih berharga daripada uang yang diberikan.
Sang kapten juga menyadari satu hal penting. Jika rombongannya tinggal terlalu lama di Garanatah, persediaan makanan kampung itu akan habis. Bukan hanya para korban kapal karam yang terancam kelaparan, tetapi juga penduduk setempat yang telah menolong mereka.

Karena itulah ia segera mengadakan musyawarah dengan para perwiranya.
Hasilnya, diputuskan bahwa mualim pertama dan mualim kedua akan melakukan perjalanan cepat melintasi pegunungan menuju Taliwang untuk mencari bantuan. Sementara sang kapten bersama rombongan lainnya akan kembali ke pantai guna menyelamatkan barang-barang yang mungkin masih dapat diambil dari kapal karam saat air surut, sebelum melanjutkan perjalanan menyusuri pesisir menuju Taliwang.
Kedua mualim tersebut diharapkan dapat mencapai Taliwang lebih dahulu dan mengirimkan bantuan kepada rombongan yang masih tertahan di Garanatah.

Catatan yang termuat dalam buku Belanda tahun 1916 ini memberikan gambaran menarik tentang posisi Taliwang pada awal abad ke-20. Kota tersebut telah dikenal sebagai pusat pemerintahan dan militer yang penting di bagian barat Pulau Sumbawa. Di saat yang sama, kisah ini juga mengabadikan kebaikan hati masyarakat Garanatah yang, meskipun hidup jauh dari pusat keramaian dan dengan sumber daya yang terbatas, tetap membuka pintu serta memberikan pertolongan kepada para korban kapal karam.

Lebih dari seabad kemudian, kisah ini menjadi pengingat bahwa nama Taliwang bukan hanya tercatat dalam sejarah administrasi Pulau Sumbawa, tetapi juga pernah hadir sebagai simbol harapan dan keselamatan bagi mereka yang berjuang bertahan hidup di tengah keterasingan.(Bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *