oleh

NTB Catat Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, Tito Ingatkan Dampak ke Masyarakat

Jakarta – Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat tergolong cukup tinggi dalam Triwulan Pertama Tahun 2026, Pertumbuhan Ekonomi NTB berada di nomor dua yakni 13.64 % dibawah Maluku Utara sebesar 19.64 %

Menteri Dalam Negeri RI, Tito Karnavian, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu mencerminkan kesejahteraan masyarakat secara merata. Hal itu disampaikan Tito saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Menurut Tito, daerah seperti Maluku Utara dan Nusa Tenggara Barat memiliki angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena ditopang sektor pertambangan, ekspor, dan investasi. Namun, pertumbuhan tersebut bukan berasal dari kuatnya konsumsi rumah tangga masyarakat.

“Pertumbuhan ekonomi tinggi yang berasal dari sektor pertambangan memang menghasilkan angka besar, tetapi belum tentu berdampak langsung pada pemerataan kesejahteraan rakyat,” ujar Tito.

Ia menjelaskan, pemerintah daerah perlu memahami cara membaca struktur pertumbuhan ekonomi agar tidak salah menafsirkan data ekonomi daerah. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak cukup dinilai dari tinggi rendahnya angka semata, tetapi juga harus dilihat dari sumber pertumbuhannya.

Tito menyebut ada empat komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi, yakni konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, serta ekspor dikurangi impor atau net ekspor.

Konsumsi rumah tangga, kata dia, menjadi komponen paling penting karena mencerminkan daya beli masyarakat. Jika konsumsi rumah tangga tinggi, maka kondisi ekonomi masyarakat dinilai membaik dan peluang pemerataan kesejahteraan juga lebih besar.

Selain itu, belanja pemerintah berfungsi sebagai stimulus ekonomi yang dapat menggerakkan sektor swasta dan meningkatkan peredaran uang di masyarakat. Sementara investasi, baik domestik maupun asing, sangat dibutuhkan karena daerah tidak bisa hanya mengandalkan APBD untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Investasi menjadi penggerak penting pertumbuhan ekonomi, sedangkan surplus ekspor juga memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan daerah,” jelas Tito.

Meski demikian, Tito kembali mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang sehat harus mampu dirasakan langsung oleh masyarakat luas, bukan hanya tercermin pada tingginya angka statistik ekonomi daerah.(K1)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *