oleh

KSB Klaim Capaian Pilar  STBM Masih Tinggi.  Kadis LH: KSB Masih dalam Pembinaan, Bukan  Kondisi Pengelolaan Sampah Terburuk

Sumbawa Barat — Penurunan capaian Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) kembali menjadi perhatian. Setelah sebelumnya mencatat capaian hingga 100 persen, data terbaru menunjukkan capaian pada Pilar 4 STBM, yakni Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (PSRT), berada di kisaran 91,4 persen.

Namun, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat menilai angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa kondisi pengelolaan sampah di KSB mengalami kemunduran drastis.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KSB, Aku Nur Rahmadin, S.Pd.,M.M Inov menyampaikan khusus pengelolaan sampah di Sumbawa Barat sebagai bagian dari Pilar 4 STBM,  oleh Pemerintah pusat, KSB dinilai dalam kondisi baik.

“Dalam pemetaan kondisi pengelolaan sampah saat ini, KSB masih berada dalam kategori kabupaten yang mendapatkan pembinaan, sementara sejumlah daerah lain masuk dalam catatan pengawasan,” jelas Kadis LH KSB di ruang kerjanya, Rabu (26/8/26) kepada KMC News.

Penurunan angka dari 100 persen menjadi 91,4 persen juga dinilai perlu dilihat secara lebih komprehensif. Kadis LH membuka kemungkinan bahwa data yang digunakan dalam penilaian belum sepenuhnya diperbarui dengan kondisi terbaru di lapangan.

Karena itu, menurutnya tetap optimistis mampu mempertahankan capaian STBM dan terus melakukan pembenahan terhadap fasilitas maupun sistem pengelolaan sampah.

Pernyataan ini sekaligus menjadi catatan penting bahwa angka diagnostik tidak boleh dibaca secara terpisah dari kondisi faktual di lapangan, proses verifikasi, waktu pengambilan sampel, serta perkembangan pembangunan fasilitas sanitasi.

Seperti diketahui sebelumnya,  KSB memiliki sejarah panjang dalam program STBM. Daerah ini pernah menjadi sorotan nasional setelah menuntaskan lima pilar STBM dan memperoleh penghargaan serta pengakuan atas capaian tersebut.

Karena itu, mempertahankan prestasi jauh lebih sulit daripada sekadar meraihnya. Jika benar terdapat penurunan capaian pada Pilar 4 dan Pilar 5, maka pemerintah bersama masyarakat perlu memastikan apakah penyebabnya adalah data yang belum diperbarui, perubahan kondisi lapangan, proses pembangunan fasilitas, atau memang terdapat penurunan kualitas pengelolaan sanitasi.

Menurut Beny Tanaya dari Solidarity Center seperti diberitakan media ini sebelumnya menyampaikan bahwa disinilah pentingnya transparansi data dan verifikasi lapangan. Yang paling penting adalah memastikan  persentase yang menurun segera kembali dituntaskan sehingga capaian yang sebelumnya sudah tinggi tidak kembali menurun.(K1)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *