Sumbawa Barat – Meski pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2025 tercatat mengalami kontraksi sebesar -3,01 persen (berdasarkan PDRB ADHK 2010) dan menjadi yang terendah di Provinsi NTB, geliat positif justru tampak kuat pada sektor-sektor non-tambang.
Penurunan tajam sektor pertambangan dan penggalian yang mencapai -24,87 persen menjadi faktor utama tertekannya ekonomi daerah. Namun di tengah kondisi tersebut, sejumlah sektor strategis justru menunjukkan performa yang menggembirakan.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 6,94 persen, diikuti sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 5,49 persen. Sektor akomodasi dan makan minum juga mengalami peningkatan 7,10 persen, mencerminkan mulai pulihnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Yang paling mencolok, sektor jasa keuangan dan asuransi melonjak signifikan hingga 16,37 persen, menunjukkan meningkatnya aktivitas ekonomi berbasis layanan dan kepercayaan terhadap sektor keuangan.
Bahkan, sektor industri pengolahan mencatat lonjakan luar biasa sebesar 6.248,27 persen. Meski kontribusinya terhadap ekonomi daerah masih terbatas, angka ini menjadi sinyal kuat awal transformasi menuju hilirisasi dan peningkatan nilai tambah.
Sektor lain seperti transportasi dan pergudangan juga tumbuh 2,39 persen, memperkuat indikasi bahwa roda ekonomi non-tambang mulai bergerak.
Di sisi lain, sektor konstruksi masih mengalami kontraksi -1,99 persen, menjadi catatan untuk terus didorong ke depan.
Kondisi ini menegaskan bahwa meski ketergantungan terhadap sektor tambang masih tinggi, fondasi ekonomi Sumbawa Barat di sektor non-tambang mulai menunjukkan ketahanan dan potensi besar untuk berkembang.
Menanggapi kondisi ini, Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa Barat, drh. Hairul,M.M mengatakan ini sinyal positif.
“Meskipun secara agregat ekonomi Sumbawa Barat mengalami kontraksi, kami melihat adanya fondasi yang kuat dari sektor non-tambang. Ini menjadi sinyal positif bahwa arah transformasi ekonomi daerah mulai berjalan ke jalur yang lebih berkelanjutan.”ungkapnya kepada KMC Media Group.(K1)


Komentar