Sumbawa Barat — Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2025 tercatat mengalami kontraksi sebesar minus 3,01 persen. Penurunan ini terutama dipicu anjloknya sektor pertambangan dan penggalian yang turun drastis hingga minus 24,87 persen.
Data tersebut tercantum dalam rilis resmi BPS Kabupaten Sumbawa Barat yang diperbarui pada 10 Maret 2026.
Kondisi ini kembali memperlihatkan betapa besarnya ketergantungan ekonomi daerah terhadap sektor tambang. Ketika sektor pertambangan melemah, ekonomi daerah secara keseluruhan langsung ikut tertekan.
Padahal di sisi lain, sejumlah sektor non-tambang justru menunjukkan pertumbuhan positif. Sektor pertanian tumbuh 6,94 persen, perdagangan 5,49 persen, akomodasi dan makan minum 7,10 persen, serta jasa keuangan melonjak hingga 16,37 persen.
Yang paling mencolok adalah sektor industri pengolahan yang tercatat tumbuh hingga 6.248,27 persen. Lonjakan ekstrem ini memunculkan pertanyaan publik mengenai basis data, skala industri yang berkembang, serta sejauh mana dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat secara luas.
Meski angka industri pengolahan terlihat spektakuler, kenyataannya belum mampu menahan kontraksi ekonomi daerah secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan kontribusi sektor pertambangan terhadap struktur ekonomi Sumbawa Barat masih terlalu dominan.
Kondisi tersebut dinilai menjadi alarm serius bagi arah pembangunan ekonomi daerah ke depan. Ketergantungan pada satu sektor membuat ekonomi daerah sangat rentan terhadap fluktuasi produksi maupun harga komoditas global.
Selain tambang, sektor konstruksi juga mengalami penurunan sebesar minus 1,99 persen. Perlambatan ini bisa menjadi indikasi melambatnya investasi fisik maupun proyek pembangunan.
Di tengah kontraksi ekonomi, sektor-sektor berbasis masyarakat seperti pertanian, perdagangan, UMKM, dan jasa justru memperlihatkan daya tahan yang cukup baik. Namun pertumbuhan sektor-sektor tersebut belum cukup kuat untuk menjadi penopang utama ekonomi daerah.
Situasi ini memunculkan tantangan besar bagi pemerintah daerah untuk mempercepat diversifikasi ekonomi, memperkuat hilirisasi industri, serta mendorong sektor produktif non-tambang agar tidak terus bergantung pada siklus industri ekstraktif.
Tanpa langkah strategis jangka panjang, perlambatan sektor tambang berpotensi terus menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi daerah di masa mendatang.(K1)

Komentar