“Anak-anak itu mungkin bermimpi menjadi pemain sepak bola. Namun yang lebih penting, mereka sedang belajar menjadi pribadi yang disiplin, berkarakter, dan memiliki harapan.”
Kalimat itu menggambarkan perubahan yang kini tumbuh di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Sore mulai turun di Lapangan Universitas Cordova, Taliwang. Puluhan anak masih berlari mengejar bola. Nafas mereka tersengal, seragam latihan basah oleh keringat, tetapi semangat tak pernah surut. Di pinggir lapangan, pelatih terus memberi arahan. Di bawah rindangnya pepohonan, para orang tua memandang dengan mata berbinar, seolah melihat masa depan yang perlahan mulai terbuka.
Pemandangan itu mungkin tampak seperti latihan sepak bola biasa. Padahal, lapangan hijau tersebut sedang menyimpan cerita yang jauh lebih besar. Ia menjadi saksi bagaimana olahraga berkembang menjadi ruang pembentukan karakter, wahana pendidikan, penggerak ekonomi masyarakat, sekaligus jembatan lahirnya generasi baru yang memiliki kesempatan lebih luas.
Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.
Jauh sebelum Kabupaten Sumbawa Barat berdiri pada 2003, sepak bola telah menjadi denyut kehidupan masyarakat di wilayah barat Pulau Sumbawa. Hampir setiap desa memiliki lapangan sederhana yang menjadi pusat aktivitas warga. Turnamen antardesa selalu dipadati penonton dan menjadi hiburan rakyat yang paling dinanti.
Semangat itu semakin besar ketika Sumbawa Barat mencatat sejarah sebagai kabupaten pertama di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang memiliki klub profesional, PS Sumbawa Barat. Selama lebih dari lima tahun, klub tersebut berkompetisi di level nasional dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat.
Namun perjalanan itu tidak berlangsung selamanya. Ketika klub berhenti berkompetisi, panggung memang menghilang, tetapi bakat tidak ikut lenyap. Anak-anak berbakat tetap bermunculan dari desa-desa, hanya saja mereka kehilangan jalur pembinaan yang jelas. Kompetisi tidak berjenjang, pelatih terbatas, wasit minim sertifikasi, dan banyak mimpi akhirnya berhenti di lapangan kampung.

Di titik inilah PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) melihat sebuah peluang investasi sosial.
Alih-alih hanya menjadi sponsor turnamen atau memberikan bantuan perlengkapan olahraga, perusahaan memilih membangun fondasi sepak bola secara menyeluruh melalui program Sports for Development. Pendekatan ini menempatkan olahraga sebagai sarana pembangunan manusia, bukan sekadar aktivitas kompetitif.
Langkah pertama yang dilakukan pada 2022 bukan mencari pemain terbaik, melainkan memperkuat fondasi ekosistem. Lebih dari 30 pelatih, 26 wasit, dan 16 pengurus ASKAB PSSI memperoleh peningkatan kapasitas. Sebanyak 33 tim yang melibatkan sekitar 726 pemuda mulai mengikuti pembinaan secara lebih terstruktur.
Pendekatan tersebut memperlihatkan pemahaman bahwa pemain hebat tidak akan lahir tanpa pelatih yang kompeten, wasit yang profesional, organisasi yang kuat, serta kompetisi yang berjalan berkesinambungan.
Sekretaris ASKAB PSSI Kabupaten Sumbawa Barat, Indra Irawan LM, S.Kom yang telah lebih dari dua dekade berkecimpung dalam pembinaan sepak bola daerah menilai pendekatan tersebut menjadi titik balik kebangkitan sepak bola lokal.
“Selama lebih dari 20 tahun saya mengikuti perkembangan sepak bola di Sumbawa Barat. Potensi anak-anak kita luar biasa, tetapi pembinaannya belum terintegrasi. Yang dilakukan AMMAN bukan sekadar memberi bantuan. Mereka membangun sistem. Menggandeng PSS Sleman untuk pembinaan usia dini dan Persija Jakarta untuk peningkatan kapasitas pelatih menunjukkan keseriusan membangun sepak bola dari hulu hingga hilir,” ujarnya.
Keseriusan itu kemudian diwujudkan melalui kolaborasi dengan PSS Sleman. Dari coaching clinic yang dimulai pada 2023, lahirlah AMMAN Football Fellowship, sebuah program beasiswa pembinaan sepak bola selama satu tahun di PSS Development Center Yogyakarta.

Yang menarik, program ini tidak hanya mengajarkan teknik bermain bola.
Para peserta tetap menjalani pendidikan formal, dibekali pembentukan karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, hingga pola hidup sehat. Sepak bola dijadikan media untuk membangun manusia secara utuh.
Mandaziat Alamsyah menjadi salah satu contoh nyata perubahan tersebut. Remaja yang sebelumnya dikenal sebagai atlet lari itu mengaku hampir kehilangan semangat belajar karena pengaruh lingkungan tempat ia tumbuh.
“Saya dulu hampir kehilangan semangat sekolah. Setelah mengikuti Fellowship Football bersama PSS Sleman, saya sadar kalau menjadi pemain sepak bola juga harus punya pendidikan yang baik. Sekarang saya lebih rajin belajar, lebih disiplin latihan, dan merasa punya tujuan hidup yang lebih jelas,” katanya.
Kini Mandaziat aktif memperkuat berbagai tim pada kompetisi usia dini hingga ajang resmi tingkat daerah. Baginya, sepak bola bukan lagi sekadar permainan, melainkan jalan menuju masa depan.
Cerita serupa datang dari sisi lain lapangan.
Saeful Bahri, pelatih Prima Academy Poto Tano, selama bertahun-tahun membina anak-anak dengan segala keterbatasan. Kesempatan mengikuti pendidikan kepelatihan melalui kolaborasi AMMAN dan Persija Jakarta menjadi pengalaman yang mengubah cara pandangnya dalam melatih.
“Saya tidak pernah membayangkan bisa mendapatkan pendidikan kepelatihan bersama Persija Jakarta. Sertifikasi ini membuka wawasan saya mengenai metode latihan modern dan pembinaan karakter. Ilmu ini akan saya bawa kembali untuk anak-anak di Sumbawa Barat,” ujarnya.
Hasilnya mulai terlihat. Akademi yang dipimpinnya berhasil meraih berbagai prestasi pada kompetisi usia dini tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Perjalanan AMMAN tidak berhenti di situ.
Pada akhir 2023, perusahaan menjalin kemitraan strategis dengan Borussia Dortmund (BVB), klub Bundesliga Jerman, sebagai Official Youth Development Partner. Kolaborasi ini menjadikan AMMAN sebagai perusahaan tambang pertama di Indonesia yang memiliki kerja sama jangka panjang dengan klub profesional Eropa dalam pengembangan sepak bola usia muda.
Melalui kemitraan tersebut, pelatih lokal memperoleh workshop, pemain mengikuti coaching clinic, ASKAB mendapatkan pendampingan tata kelola, sementara Liga KSB berkembang menjadi kompetisi yang inklusif.
Bahkan liga bagi penyandang disabilitas turut diselenggarakan, menjadi salah satu yang pertama di kawasan Indonesia Tengah.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa olahraga bukan hanya tentang kompetisi, melainkan ruang inklusi sosial yang membuka kesempatan bagi semua kalangan.
Pada 2024, program semakin berkembang. Lebih dari 500 talenta muda, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas, mengikuti pelatihan mengenai teknik bermain, nutrisi, psikologi olahraga, serta penguatan mental. Sebanyak 32 pemain kembali diberangkatkan ke Yogyakarta untuk mengikuti Trial Football Training bersama PSS Sleman.
Pada Porprov NTB XII 2026, sebanyak 16 dari 24 pemain yang memperkuat Askab PSSI Kabupaten Sumbawa Barat merupakan alumni Football Fellowship. Fakta tersebut menunjukkan bahwa pembinaan yang dilakukan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi telah menjadi jalur lahirnya atlet-atlet daerah.
Kompetisi yang berjalan rutin menciptakan kebutuhan terhadap pelatih, wasit, perangkat pertandingan, petugas keamanan, pengelola lapangan, dokumentasi, hingga penyelenggara event. Pedagang makanan memperoleh pelanggan baru. Penyedia transportasi mendapat tambahan pendapatan. UMKM lokal ikut bergerak ketika turnamen berlangsung.
Bagi sebagian pemain, olahraga ini bahkan menjadi sumber penghasilan yang membantu membiayai pendidikan mereka. Tidak sedikit pemain lokal memperoleh honor dari berbagai turnamen regional hingga mampu membayar biaya kuliah dari hasil bermain sepak bola.

Inilah sisi lain dari investasi sosial yang sering luput dari perhatian.
Keberhasilan sebuah program CSR tidak semata diukur dari besarnya dana yang disalurkan, melainkan dari kemampuan menciptakan perubahan yang terus berputar di masyarakat.
Dalam konteks ini, pendekatan AMMAN menunjukkan bahwa CSR dapat berkembang menjadi investasi sosial jangka panjang. Ketika olahraga dipadukan dengan pendidikan, penguatan kapasitas, dan tata kelola yang baik, manfaatnya melampaui kemenangan di atas lapangan.
Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Infrastruktur olahraga perlu terus diperkuat, kompetisi harus semakin berjenjang, dan kolaborasi antara pemerintah, organisasi sepak bola, sekolah, masyarakat, serta sektor swasta harus terus dijaga.
Barangkali tidak semua anak yang berlatih di Lapangan Universitas Cordova akan mengenakan seragam Tim Nasional Indonesia.Tidak semuanya akan bermain di Liga 1.
Tetapi jika mereka tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, sehat, berpendidikan, memiliki pekerjaan yang layak, dan mampu menginspirasi lingkungannya, maka tujuan terbesar dari sebuah investasi sosial telah tercapai.
Pada akhirnya, perusahaan tambang memang dikenal karena kemampuannya mengelola kekayaan mineral di dalam bumi.
Namun warisan yang paling bernilai bukanlah emas atau tembaga.Warisan itu adalah manusia.
Dan di Sumbawa Barat, warisan tersebut sedang ditempa setiap sore, di atas hamparan rumput hijau, ketika anak-anak terus berlari mengejar bola dan mengejar masa depan mereka.(K1)

Komentar