oleh

Jejak Taliwang dalam Buku Belanda (Bagian 2): Berpamitan dari Garanatah, Korban Kapal Karam Kembali Menantang Belantara

Setelah semalam beristirahat di Kampung Garanatah, para korban kapal karam bersiap melanjutkan perjuangan mereka. Pagi-pagi sekali, sekitar 120 orang yang selamat dari musibah itu dibangunkan.

Waktu mereka tidak banyak. Air laut yang mulai surut menjadi kesempatan untuk kembali menuju pantai dan menyelamatkan barang-barang yang mungkin masih tersisa di bangkai kapal.

Malam sebelumnya sebenarnya tidak banyak yang bisa tidur nyenyak. Ratusan orang harus berdesakan di sebuah kampung kecil yang hanya memiliki sedikit rumah. Sebagian besar terpaksa tidur berhimpitan, sementara angin malam yang cukup dingin membuat banyak di antara mereka tetap terjaga hingga pagi.

Hanya Nonnie dan Nona Schroevers yang memperoleh tempat istirahat lebih layak. Kepala kampung mempersilakan keduanya bermalam di rumahnya sendiri. Mereka bahkan diberi tikar dan bantal, sesuatu yang terasa sangat mewah setelah berhari-hari hidup dalam penderitaan.

Sarapan pagi pun sangat sederhana. Setiap orang hanya memperoleh segenggam nasi rebus. Rasa lapar sebenarnya belum juga hilang, namun kabar yang dibawa Kapten Dijkstra mengembalikan semangat rombongan. Badai telah mereda. Jika cuaca tetap bersahabat, mereka berharap dapat mencapai pantai menjelang malam dan kembali ke lokasi karamnya kapal Snip.

Sebelum berangkat, sang kapten kembali menunjukkan rasa terima kasihnya kepada penduduk Garanatah. Ia memberikan beberapa keping uang perak kepada Nasoep dan Kasoem, dua penduduk setempat yang bersedia memandu para mualim menuju Taliwang. Bersama mereka juga dititipkan sebuah telegram yang harus segera dikirim dari Taliwang ke Batavia dan Kupang untuk memberitahukan bahwa para korban kapal karam masih hidup.

Perpisahan itu berlangsung mengharukan. Nasoep dan Kasoem hanya membawa bekal dua genggam nasi. Mereka masih harus berjalan sekitar dua hari untuk mencapai kampung berikutnya, tanpa jaminan akan menemukan makanan di sepanjang perjalanan.

Setelah melambaikan tangan untuk terakhir kalinya, kedua pemandu itu menghilang di balik lebatnya hutan. Anak-anak kecil Garanatah masih setia mengantar rombongan korban kapal karam hingga cukup jauh melewati ladang sebelum akhirnya kembali ke kampung mereka.

Perjalanan kembali menuju pantai ternyata tidak kalah berat. Nonnie kembali digendong bergantian oleh Kapten Dijkstra dan mualim ketiga. Bukan karena ia sama sekali tidak mampu berjalan, melainkan agar telapak kakinya yang telanjang tidak semakin terluka oleh bebatuan tajam di sepanjang jalur pegunungan.

Nona Schroevers juga terus berjalan dengan tabah menggunakan sepatu bot milik salah seorang perwira. Luka-luka lecet di kakinya mulai membaik setelah semalam beristirahat di kampung.

Meskipun suasana rombongan cukup tenang, hampir tidak ada percakapan yang terdengar. Semua orang terlalu lemah akibat rasa lapar dan kelelahan. Namun satu harapan terus memenuhi pikiran mereka, yakni kemungkinan masih terselamatkannya persediaan makanan di dalam kapal. Mereka membayangkan kaleng-kaleng berisi sayuran, daging, dan buah-buahan yang mungkin belum sempat dihanyutkan ombak.

Nonnie sendiri lebih banyak diam. Dalam benaknya terbayang keluarganya di Surabaya yang tentu telah mengira kapal Snip tenggelam bersama seluruh penumpangnya. Ia membayangkan kakaknya, Jaap, menunggu sia-sia di pelabuhan. Ia juga membayangkan ibunya yang pasti dipenuhi kecemasan karena belum mengetahui bahwa putrinya masih hidup.

Berulang kali gadis kecil itu berkata dalam hati, seolah mengirim pesan yang tak mungkin sampai.

“Ibu… aku di sini, di pantai selatan Sumbawa. Jangan khawatir. Aku selamat.”

Namun pesan itu hanya tinggal harapan. Tidak ada satu pun cara baginya untuk memberi kabar kepada keluarga selain menunggu telegram yang dibawa para mualim berhasil dikirim dari Taliwang.

Menjelang tengah hari rombongan berhenti sekitar tiga puluh menit untuk beristirahat. Mereka tidak berani terlalu lama berhenti karena harus mencapai pantai sebelum malam tiba.

Kali ini perjalanan ditempuh melalui jalur yang lebih pendek. Penduduk setempat sebelumnya telah menunjukkan sebuah rute mengikuti aliran sungai kecil yang kemudian langsung menuju pesisir, sebelum akhirnya berbelok ke utara menuju lokasi bangkai kapal.

Di tengah perjalanan, setidaknya mereka tidak lagi kekurangan air minum. Air sungai pegunungan yang sangat jernih mengalir di sepanjang rute. Para korban kapal karam bergantian meneguknya dengan kedua telapak tangan.

Kapten Dijkstra berkali-kali mengingatkan agar air yang sangat dingin itu tidak langsung ditelan, melainkan dibiarkan sejenak hangat di dalam mulut. Ia khawatir perut kosong para penyintas tidak mampu menerima air sedingin itu dan justru menyebabkan mereka jatuh sakit.

Sementara itu, penduduk lokal yang mendampingi mereka tampak terbiasa meminum air sungai tanpa kesulitan. Kebiasaan hidup di alam membuat mereka jauh lebih kuat menghadapi kondisi yang berat.

Saat matahari siang mulai bersinar terik menembus awan, Nonnie kembali tertidur di bahu Kapten Dijkstra. Di tengah rasa lapar, letih, dan perjalanan yang belum juga usai, rombongan itu terus melangkah menuju pantai dengan satu harapan besar, menemukan kembali kapal mereka dan mempertahankan peluang untuk bertahan hidup.
(Bersambung)

Diterjemahkan Dari Buku : De Schillekinderen en andere verhalen karya Nannie van Wehl yang diterbitkan pada tahun 1916

Baca Juga :

Jejak Taliwang dalam Buku Belanda: Kisah 120 Korban Kapal Karam di Sumbawa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *