oleh

Sumbawa Barat Jadi Daerah dengan Pertumbuhan Ekonomi Terendah di NTB Tahun 2025

Sumbawa Barat – Kabupaten Sumbawa Barat menjadi sorotan dalam data pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2025. Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2010, Sumbawa Barat tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi paling rendah di NTB, yakni minus 3,01 persen.

Angka tersebut menempatkan Sumbawa Barat di posisi terakhir dari 10 kabupaten/kota di NTB. Sementara daerah lain mampu mencatat pertumbuhan positif, ekonomi KSB justru mengalami kontraksi cukup dalam.

Posisi teratas ditempati Kota Mataram dengan pertumbuhan 5,43 persen, disusul Kabupaten Lombok Timur sebesar 4,93 persen dan Kabupaten Lombok Tengah sebesar 4,87 persen.

Kontras dengan daerah lain, penurunan ekonomi Sumbawa Barat dipicu anjloknya sektor pertambangan dan penggalian yang turun drastis hingga minus 24,87 persen. Selama ini, struktur ekonomi daerah memang sangat bergantung pada aktivitas tambang sehingga ketika sektor tersebut melemah, dampaknya langsung menekan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Ironisnya, di tengah kontraksi ekonomi daerah, sejumlah sektor non-tambang justru menunjukkan pertumbuhan positif. Sektor pertanian tumbuh 6,94 persen, perdagangan 5,49 persen, akomodasi dan makan minum 7,10 persen, serta jasa keuangan melonjak hingga 16,37 persen.

Bahkan sektor industri pengolahan tercatat tumbuh sangat tinggi mencapai 6.248,27 persen. Namun lonjakan itu belum cukup kuat mengangkat pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan akibat dominasi sektor tambang yang masih terlalu besar.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai arah pembangunan ekonomi daerah ke depan. Ketergantungan terhadap satu sektor dinilai membuat ekonomi KSB sangat rentan terhadap fluktuasi produksi maupun kondisi pasar global.

Pengamat menilai, data ini seharusnya menjadi momentum evaluasi besar bagi pemerintah daerah untuk mempercepat diversifikasi ekonomi, memperkuat hilirisasi industri, dan mendorong sektor produktif masyarakat seperti pertanian, UMKM, perdagangan, hingga pariwisata.

Jika tidak segera dibenahi, perlambatan sektor tambang berpotensi terus menjadi ancaman utama stabilitas ekonomi Sumbawa Barat di masa mendatang.(K1)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *