Sumbawa Barat – Jurnalis asal Kabupaten Sumbawa Barat, Indra Irawan, tengah menyiapkan sebuah buku yang mengangkat kisah perjalanan panjangnya selama lebih dari dua dekade menjalani profesi di dunia jurnalistik.
Buku yang direncanakan berjudul “22 Tahun KSB: Pena dari Tanah Sumbawa Barat” ini tidak sekadar menjadi mini biografi. Buku tersebut akan berisi kisah perjalanan, pengalaman liputan di lapangan, serta cerita selama 22 tahun menjadi wartawan yang menyaksikan langsung berbagai dinamika kehidupan masyarakat dan pembangunan di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).
Indra mengatakan, keinginannya menulis buku ini lahir dari kesadaran bahwa setiap manusia memiliki fitrah untuk memberi manfaat bagi orang lain. Ia berharap melalui tulisan, pengalaman yang dimilikinya dapat menjadi pelajaran dan inspirasi bagi generasi muda, khususnya mereka yang tertarik dengan dunia jurnalistik.
“Selama lebih dari dua puluh tahun saya menyaksikan banyak peristiwa di Sumbawa Barat. Ada cerita pembangunan, dinamika sosial masyarakat, hingga perubahan zaman dari tahun ke tahun. Saya merasa semua itu penting untuk dicatat agar tidak hilang begitu saja,” ujarnya.
Menurutnya, buku ini tidak hanya menceritakan perjalanan pribadinya sebagai wartawan, tetapi juga menjadi catatan perjalanan sebuah daerah yang ia saksikan langsung dari dekat.
Berbagai pengalaman liputan di lapangan, pertemuan dengan tokoh masyarakat, hingga cerita di balik berbagai peristiwa penting akan disusun dalam bentuk narasi ringan yang mudah dipahami oleh semua kalangan.
“Jurnalis pada dasarnya adalah saksi dari banyak peristiwa. Apa yang kita lihat, dengar, dan alami di lapangan, jika ditulis dengan baik, bisa menjadi bagian dari sejarah sebuah daerah,” katanya.
Menariknya, perjalanan Indra Irawan di dunia pers tidak hanya sebagai wartawan. Ia juga dikenal sebagai pengusaha media yang terlibat dalam pendirian sejumlah media, baik media cetak maupun media online.
Menurutnya, dunia pers tidak hanya berbicara tentang idealisme jurnalistik, tetapi juga memiliki sisi industri dan dunia usaha yang harus dikelola dengan baik agar media dapat terus hidup dan berkembang.
Indra menyadari bahwa membangun media bukanlah pekerjaan mudah. Di satu sisi, seorang jurnalis harus menjaga independensi dan idealisme pemberitaan. Namun di sisi lain, media juga merupakan sebuah industri yang membutuhkan manajemen, keberlanjutan usaha, dan strategi bisnis.
“Media itu punya dua sisi. Ada sisi idealisme jurnalistik yang harus dijaga, tapi ada juga sisi industri yang harus dikelola. Tanpa keberlanjutan usaha, media tidak akan bisa bertahan,” jelasnya.
Pengalaman membangun dan mengelola media inilah yang juga menjadi bagian penting dari cerita dalam buku yang sedang ia siapkan.
Ia ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara idealisme pers dan realitas dunia usaha, sesuatu yang sering menjadi tantangan bagi banyak pelaku media.
Selain aktif sebagai wartawan dan pengusaha media, Indra juga dikenal aktif dalam berbagai organisasi pers.
Ia tercatat sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Nusa Tenggara Barat sejak tahun 2005.
Dalam dunia media siber, Indra juga dipercaya memimpin organisasi perusahaan media. Ia menjabat sebagai Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Sumbawa Barat selama dua periode.
SMSI sendiri merupakan organisasi perusahaan media siber yang menjadi konstituen Dewan Pers.
Tidak hanya itu, Indra juga tercatat sebagai salah satu tokoh pendiri organisasi Jurnalis Online Indonesia (JOIN) bersama puluhan jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia yang dibina Prof Dr.H. Hamdan Zoelva, S.H.,M.H pada masa awal berkembangnya media daring di tanah air.
Dalam perjalanan organisasi tersebut, ia juga pernah didapuk sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) JOIN Nusa Tenggara Barat. dan menjadi salah satu pembicara dalam Rakernas Join di Pangkal Pinang Bangka Belitung.
Pengalaman panjang di dunia jurnalistik, organisasi pers, serta pengelolaan media ini menjadi bagian penting yang akan dituangkan dalam buku tersebut.
Menariknya, buku “22 Tahun KSB” tidak hanya berisi catatan sejarah dalam bentuk tulisan.
Salah satu Pemenang konten kreator “School of Jurnalistik bareng amman” beberapa tahun lalu di Mataram ini juga berencana melengkapi buku tersebut dengan banyak foto dokumentasi perjalanan Kabupaten Sumbawa Barat dari waktu ke waktu.
Foto-foto tersebut akan menampilkan berbagai momen penting, mulai dari peristiwa pembangunan daerah, kegiatan masyarakat, hingga potret kehidupan sosial yang pernah ia abadikan selama menjalankan tugas jurnalistik.
Menurutnya, foto memiliki kekuatan tersendiri dalam menyampaikan cerita.
“Kadang satu foto bisa menceritakan peristiwa yang sangat panjang. Karena itu buku ini nantinya tidak hanya berisi tulisan, tetapi juga foto-foto yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan KSB,” jelas Indra yang pernah belajar Fotografi jurnalistik bersama PWI Bali dan Bali Post Group tersebut.
Dengan perpaduan antara cerita naratif dan dokumentasi visual, buku ini diharapkan menjadi arsip sejarah yang menarik untuk dibaca sekaligus dilihat oleh masyarakat.
Indra berharap buku “22 Tahun KSB” nantinya tidak hanya menjadi kisah perjalanan profesinya, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa menulis dan mencatat sejarah adalah bagian dari kontribusi bagi masyarakat.
Buku ini rencananya akan ditulis dengan gaya cerita yang sederhana dan naratif agar mudah dipahami oleh semua usia, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum.
“Harapan saya sederhana. Semoga buku ini bisa menjadi pengingat perjalanan daerah kita, sekaligus memberi semangat kepada generasi muda bahwa menulis dan berbagi pengalaman adalah salah satu cara untuk memberi manfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, selama masih ada cerita yang perlu disampaikan dan fakta yang perlu dituliskan, maka pena seorang jurnalis tidak akan pernah berhenti bekerja.
Buku ini diharapkan menjadi jejak kecil dari perjalanan panjang Kabupaten Sumbawa Barat, yang terekam melalui tulisan dan foto-foto sejarah dari sudut pandang seorang wartawan yang telah menyaksikannya selama lebih dari dua dekade.(*)

Komentar