Sumbawa Barat – Menjaga laut tidak mengenal batas negara. Semangat itulah yang mewarnai pertemuan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dengan delegasi internasional dari Australia dan Singapura di Tourism Information Center (TIC) Poto Tano, Selasa (6/10/2026).
Pertemuan tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman mengenai pelestarian ekosistem pesisir, kearifan lokal masyarakat kepulauan, hingga pengembangan pariwisata bahari yang berkelanjutan.
Kunjungan ini difasilitasi Yayasan Juang Laut Lestari (JARI) dengan melibatkan perwakilan Australian Institute of Marine Science (AIMS), masyarakat Kepulauan Selat Torres, Australia, serta National University of Singapore (NUS).
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Sumbawa Barat, Nurdin Rahman, S.E., menilai pertemuan lintas negara tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus memperkuat kolaborasi dalam menjaga potensi pesisir dan laut daerah.
“Wilayah pesisir bukan hanya memiliki potensi wisata, tetapi juga menyimpan kekayaan ekosistem, budaya, dan pengetahuan lokal yang perlu dijaga bersama. Melalui pertemuan ini, kita berharap ada pertukaran pengalaman dan gagasan yang dapat memperkuat upaya pelestarian lingkungan sekaligus mendorong pengembangan pariwisata bahari yang berkelanjutan di Sumbawa Barat,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan pariwisata pesisir perlu berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan pelibatan masyarakat setempat. Dengan demikian, potensi wisata tidak hanya menjadi daya tarik bagi pengunjung, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang hidup dan menggantungkan penghidupan dari kawasan pesisir.
Rombongan delegasi disambut oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sumbawa Barat. Turut hadir perwakilan Disparpora, Camat Poto Tano, Kepala Desa Poto Tano, serta unsur pengamanan wilayah dari Koramil dan Polisi Perairan (Polair) Poto Tano.
Nuansa kearifan lokal langsung terasa sejak awal kegiatan melalui pertunjukan tari Manca’ yang diiringi musik tradisional. Penyambutan tersebut menjadi gambaran bahwa kekayaan budaya lokal merupakan bagian penting dari identitas dan daya tarik kawasan pesisir Sumbawa Barat.
Agenda pertemuan tidak hanya berfokus pada pengembangan pariwisata, tetapi juga membahas sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir. Mulai dari dampak perubahan iklim, pelestarian biota laut dan terumbu karang, hingga tata kelola perikanan berkelanjutan.
Para peserta juga bertukar pengalaman mengenai kehidupan sosial, tradisi, dan cara masyarakat pesisir di masing-masing wilayah beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
Pertukaran pengetahuan tersebut menjadi penting karena masyarakat pesisir memiliki hubungan erat dengan laut, baik sebagai sumber penghidupan, ruang budaya, maupun penopang aktivitas ekonomi.
Bagi Sumbawa Barat, dialog semacam ini membuka peluang untuk memperkaya perspektif dalam mengembangkan destinasi bahari dengan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem dan kehidupan masyarakat lokal.
Salah satu momen menarik dalam kunjungan tersebut adalah penyerahan cenderamata dari perwakilan AIMS dan masyarakat Kepulauan Selat Torres kepada Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat.
Cenderamata itu mencakup lukisan tradisional yang menggambarkan kehidupan masyarakat kepulauan, serta kalender tradisional yang digunakan sebagai panduan membaca musim memancing dan bercocok tanam berdasarkan pergerakan rasi bintang dan arah angin.
Pengetahuan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat adat mewariskan cara memahami alam dari generasi ke generasi. Kearifan lokal menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir dan laut.
Selain itu, delegasi menyerahkan kerajinan berbahan jaring bekas yang didaur ulang menjadi bentuk gurita, lobster, dan buah kelapa. Karya tersebut memperlihatkan bagaimana limbah peralatan perikanan dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai simbolis sekaligus mengangkat pesan kepedulian terhadap lingkungan laut.
Bagi pengembangan pariwisata, perpaduan antara kekayaan alam, budaya, dan kreativitas masyarakat seperti ini berpotensi menjadi bagian dari pengalaman wisata yang lebih bermakna.
Disparpora Sumbawa Barat berharap pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga dapat memperkuat komunikasi dan membuka ruang kolaborasi antara masyarakat pesisir, pemerintah, akademisi, serta lembaga yang bergerak di bidang kelautan dan lingkungan.
Nurdin menegaskan bahwa keberlanjutan pariwisata bahari membutuhkan kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan sekaligus menghargai pengetahuan dan tradisi masyarakat setempat.
“Harapan kita, kolaborasi seperti ini dapat memperluas wawasan masyarakat pesisir, memperkuat kepedulian terhadap kelestarian laut, dan menjadi inspirasi dalam mengembangkan pariwisata yang tetap menjaga identitas budaya serta lingkungan. Potensi pesisir Sumbawa Barat perlu dikelola secara bijak agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat hingga generasi mendatang,” katanya.
Melalui kunjungan delegasi Australia dan Singapura ini, Kabupaten Sumbawa Barat berupaya memperkuat posisinya sebagai wilayah yang memiliki potensi wisata bahari sekaligus kekayaan budaya pesisir. Kolaborasi lintas negara diharapkan dapat menjadi salah satu pintu untuk mendorong pengelolaan pesisir yang lebih berkelanjutan di Bumi Pariri Lema Bariri.(K1)

Komentar