Sejumlah Inchumbent Berebut Kursi DPRD di ‘Dapil Neraka’ Sumbawa Barat

KMCNews, Sumbawa Barat – Nama-nama pesohor politik bakal kembali bertarung di Pemilihan Legislatif 2019 mendatang. Dari tiga daerah pemilihan di Sumbawa Barat, ada dapil yang dikenal sebagai ‘dapil neraka’ karena mempertemukan sejumlah nama besar untuk memperebutkan kursi parlemen.

Dapil Sumbawa Barat II meliputi Kecamatan Brang Rea, Seteluk,Poto Tano, dan Brang Ene merupakan salah satu dapil neraka. Daerah ini mempertemukan jawara-jawara politik yang memperebutkan 9 kursi DPRD KSB. Selebihnya Caleg pendatang baru dan mantan anggota Dewan setempat.

PDI-P, Demokrat, Gerindra, Hanura, Golkar, PBB, PKPI, PKB, PAN, masing-masing memasang satu caleg petahana. Jika semua kursi Dapil II berhasil direbut para Caleg petahana, maka ratusan Caleg pendatang baru akan terpental. Para caleg Inchumbent di Dapil ini pun akhirnya berkompetisi ekstra keras.

Berikut nama-nama Inchumbent Dapil ll Sumbawa Barat

1. Masdar Arma,SE, M.Si (PKB)

2. Hasanuddin (PDIP)

3. Mancawari LM,S.Ip (Partai Golkar)

4. Mustafa HMS Partai Gerindra)

5. Mustakim Patawari LM,S.TP (Partai Demokrat)

6. Dinata Putrawan,ST (PAN)

7. Syafruddin Denni (Partai Hanura)

8. Agusfian,SE (PBB)

9. Aheruddin,SE,ME (PKPI)

Apa mungkin semuanya kembali ke gedung Dewan untuk lima tahun kedepan? Ini tantangan berat yang harus dihadapi,” kata salah satu Caleg Inchumbent Dapil II, Senin (1/10) kemarin.

Sementara di Dapil I, 9 caleg Inchumbent bersaing dengan ratusan caleg wajah baru untuk memperbutkan 10 kursi Dewan. Masing-masing Partai memasang satu caleg inchumbent di Dapil yang berada di satu wilayah, yakni Kecamatan taliwang dengan 15 desa atau kelurahan.

Sedang di Dapil III, 4 Caleg Inchumbent bersaing dengan ratusan Caleg pendatang baru untuk memperebutkan enam kursi. Masing-masing partai menjagokan satu Caleg Inchumbent.

Beberapa caleg Inchumbent mengaku tak gamang dengan rival mereka di ajang Pileg 2019 ini. Karena mereka merasa sudah lebih dikenal daripada Caleg pendatang baru. Kecenderungan pemilih yang lebih

beroientasi pada figur Caleg, daripada afiliasi kepartaian bagi para Caleg Inchumbent merupakan modal awal yang nyaris tak dimiliki Caleg pendatang baru.

Namun, sejumlah Caleg muka baru pun tak kalah percaya diri dengan Caleg inchumbent . Justru fenomena kecenderungan memilih pesona figur ini mengindikasikan semua Caleg yang berkompetisi pada Pileg memiliki potensi dan peluang sama kuat. Terlebih, strategi pendekatan personal ke pemilih pun tak jauh beda.

Terlepas dari strategi masing-masing Caleg, aroma money politics rupanya masih kental di ranah pesta demokrasi di Kabupaten Sumbawa Barat.

Wasit pemilu(Bawaslu red) setempat pasti akan kebanjiran laporan tentang money politics, hingga hari pencoblosan.

Dengan harapan kecurangan yang terjadi di lapangan bisa terlaporkan dan tidak menjadi mengganggu jalannya pesta demokrasi, baik pileg maupun pilpres.

Potensi kecurangan bisa saja terjadi. Mulai pelanggaran kampanye, politik uang, kampanye hitam, penyebaran fitnah atau berita bohong, menjadi hal yang mungkin terjadi. Oleh sebab itu, partispasi masyarakat juga diupayakan bisa ikut mewujudkan kampanye bersih.

Situasi seperti ini butuh peran serta masyarakat. Sebisa mungkin mereka ikut berpartisipasi dalam pengawasan. Mereka bisa merekam dan melaporkan kepada Bawaslu, ketika tahu dan menemukan pelanggaran.(K D)