Penjelasan Managemen PT AMNT, Tentang Kendala Pembangunan Smelter

KMCNews – Perusahaan tambang Batu Hijau, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PT AMNT) melalui proses panjang dalam pembangunan Smelter di Kecamatan Maluk Kabupaten Sumbawa Barat.

Awalnya PT AMNT rencananya membangun pabrik induk Smelter di lahan miliknya di Benete, namun secara tekhnis tidak bisa dilakukan kemudian berpindah ke Dusun Otak Keris Desa Maluk.

Berpindah ke Otak Keris, namun nyatanya PT AMNT kembali menemui kendala dimana warga setempat merasa sedikit enggan melepaskan lahannya sesuai harga yang ditentukan.

“ PT AMNT pun merasa gak punya kesanggupan untuk memahami keinginan masyarakat secara umum artinya bahwa gak bisa keinginan perusahaan untuk menjalankan perintah undang-undang membangun smelter itu dijalankan oleh kami sendiri perusahaan, untuk itulah kita duduk dengan Pak Bupati dengan Pak Kapolres dan Pak Dandim mencari solusi kira-kira bagaimana kita melakukan pendekatan dengan masyarakat, dan ini kita minta arahan sehingga kita tidak salah langkah,” ujar Madiyan Sahdianto, Managemen PT AMNT, saat pertemuan dengan sejumlah ulama dan tokoh agama KSB, di Kantor Bupati, (Rabu 21/8/19).

Menurut Madiyan, perusahaan pun mencoba berbagai langkah namun perusahaan punya keterbatan waktu karena undang-undang mewajibkan harus beroperasi ditahun 2022, sehingga dijelaskannya kalau ditarik mundur PT AMNT sudah harus segera melaksanakan konstitusi itu dan harusnya kalau sesuai target tahun 2021 sudah melakukan konstruksi, masalah perijinan dan lain-lain.

“ Cuma dalam perjalanannya ternyata gak gampang juga padahal yang kita butuhkan sebenarnya gak terlalu banyak, tadinya kita berpikir bahwa di Desa Otak Keris itu kampung yang kita butuhkan itu adalah Desa transmigran jadi kita berharap komunikasi bisa lebih gampang dan kita juga sudah pikirkan relokasi dan lain-lain, alternative-alternatif sebenarnya kita tawarkan juga,”terang Madiyan.

Pendekatan –pendekatan secara kekeluargaan pun menurut Madiyan, berulang kali dilakukan bahkan sampai melibatkan Bupati langsung dan Gubernur,diakui perusahaan punya keterbatan waktu, dan dikhawatirkan akan menggangu operasional karena itu pihaknya minta bantuan Bupati, Kapolres dan Dandim.

“ Kita perusahaan maunya membuat KSB ini mungkin nanti di NTB menjadi daerah yang paling hebat kalau smelter itu dibangun disini, tapi kita tidak bisa memaksakan untuk membangun di KSB kalau masyarakatnya tidak mendukung, saya bersyukur bahwa pak Bupati beserta jajaranya mendukung kita sepenuh hati dan mereka bekerja keras kita lihat buktinya, dan itu kita bersama-sama melaksanakanya, tapi pemerintah saat ini tidak punya kekuatan memaksa kalau lahan itu milik pribadi gak bisa usir kayak jaman dulu, meski Pak Kapolres pak Dandim mendukung kita juga gak bisa pakai kekuatan itu, kecuali masyarakat memang dengan sukarela dengan sadar bahwa manfaat yang akan dihadapi dikemudian hari buat anak cucu menjadi sesuatu yang besar baru kita bisa lakukan, kita tak bisa paksa,” ungkap Madiyan.

Menurutnya lagi, upaya dilakukan untuk pembebasan lahan di Otak Keris ini sudah dilakukan sejak April karena tidak bisa berhasil kemudian mundur sampai Mei, mundur sampai Juni akhirnya terakhir disepakati mundur sampai Juli kemudian Juli pun tidak bisa selesai.

“ Terakhir kita gak bisa terus mundur, gak tahu sampai batas waktu kapan, saya berbicara sama Pak Bupati, Kapolres dan Pak Dandim ya sudah kita tunggu sampai akhir Agustus ini, kalau nggak ya terpaksa kita harus memikirkan untuk memindahkan lokasi smelter, dan itu susah buat kita harus buat kajian ulang dari nol semuanya, tapi kita tidak punya pilihan daripada kita nanti bentrok sama masyarakat, nanti bapak-bapak jadi serba salah nanti dikiranya bapak-bapak jadi bonekalah, masyarakat kan suka bikin opini gak jelas, kita juga gak mau bebani Pak Bupati, Pak Kapolres dan Pak Dandim saya melihat upayanya sudah maksimal dan saya tidak bisa memaksakan kalau akhir Agustus memang gak bisa, kita sama-sama menyadari kita tak bisa bersama-sama membangun di KSB, nanti kita pikirkan lagi kedepan harus bagaimana,” demikian pungkas Madiyan Sahdianto.

Apa yang menjadi kendala PT AMNT kini tuntas, Pemerintah KSB dengan melibatkan partisipasi ulama mendatangi khusus warga Dusun Otak Keris, dalam pertemuan yang berlangsung sore hari, dihari yang sama (Rabu, 21 Agustus 2019), warga Otak Keris sepakat melepaskan lahannya untuk pembangunan Smelter.(K-1)