oleh

Penilaian Kritis Terhadap F3 Jilid II dan Harapan Publik Kedepan

Lima Tahun kedepan, Kabupaten Sumbawa Barat kembali dipimpin pasangan F3 (HW Musyafirin – Fud Syaifuddin), publik pun menaruh harapan besar KSB menjadi luar biasa seperti yang didengungkan selama ini

KMCNews, Taliwang – Faktor kepemimpinan menjadi salah satu instrumen penting dalam mewujudkan perubahan daerah ke arah yang lebih baik, sebab pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengatur serta memiliki kebijakan dalam menorehkan pembangunan, pelayanan maupun pemberdayaan menuju masyarakat adil dan sejahtera.

Kabupaten Sumbawa Barat satu dari sekian Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat, belum lama ini  telah melantik Pemimpin Daerah Bupati dan Wakil Bupati tepatnya 26 Februari 2021.

Pasangan F3 (HW Musyafirin – Fud Syaifuddin) dilantik oleh Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah, setelah memenangkan Pilkada 2020 sebagai calon tunggal dan kembali akan memimpin KSB di periode kedua selama 5 tahun kedepan..

Paska pelantikan Bupati dan wakil Bupati terpilih, publik pun menaruh harapan besar akan terwujudnya KSB kearah yang lebih kedepan, apalagi pasangan terpilih ini pun memiliki jargon KSB luar biasa yang dinantikan publik, implementasinya akan seperti apa bukan hanya jangka pendek namun jangka panjang.

Antusiasme publik sangat terasa dan tergambar di media sosial misalnya, setelah pelantikan ratusan ucapan selamat dari berbagai komponen menghiasi linimasa platform digital itu, bukan hanya semata selamat atas keberhasilan meraih posisi puncak sebagai Kepala Daerah, namun dibalik itu ada terbersit harapan besar.

Program yang merupakan aplikasi dari visi dan misi pemimpin KSB terpilih periode kedua ini, dimana yang sudah baik agar dilanjutkan , sementara yang masih belum baik agar terus diperbaiki menjadi baik serta yang belum terealisasi bisa direalisasikan.

Sektor Pertanian, Perkebunan,Pariwisata dan Perikanan diharapkan dapat menjadi fokus perhatian kedepan, sektor yang seharusnya menjadi primadona ini terkesan terabaikan sejauh ini, sebaliknya sektor tambang yang dijadikan andalan padahal nota bene tidak bisa diperbaharui dianggap belum mampu memberikan efek positif bagi masyarakat, publik menilai belum ada langkah konkrit bagaimana meningkatkan sektor ril tadi.

Inovasi,kreatifitas untuk  menciptakan lompatan-lompatan  lebih baik dengan melibatkan partisipasi semua stakeholder dalam upaya pembangunan berkesinambungan harus terus ditingkatkan dan ciptakan.

Misalnya, Disnakertrans diharapkan lebih konsen terhadap tenaga-tenaga kerja yang ada agar lebih baik dan bisa berkompetisi dalam bursa kerja yang semakin hari makin berat, kemudian bagaimana strateginya dalam hal mengurangi pengangguran yang ada.

Disisi lain industri rumah tangga baik itu UMKM dan IKM yang kuat sebagai ujung tombak perekonomian daerah sejatinya memiliki manfaat yang besar dan terus digalakkan baik secara kwalitas maupun kwantitas.

Kiranya seperti inilah gambaran umum yang diharapkan publik dan dapat diramu dengan baik oleh kepemimpinan KSB kedepan dalam hal ini pasangan F3.

Lebih kritis lagi, Ketua Gerakan Muda Sumbawa Barat, Firman Jawaz berpendapat untuk menilai langkah dan kinerja Kepala Daerah kedepan menurutnya, dimulai dengan kembali memflashback apa yang sudah diselenggarakan dalam masa jabatan priode F3 jilid I yang lalu.

Menurutnya, sepanjang lima tahun yang lalu KSB dalam pandanganya melihat pemerintah masih sangat sibuk dengan hal hal yang bersifat sampul buku saja dan tidak pada isi buku serta penyelenggaraan pemerintahan yang tidak menyentuh pada aspek inti dan esensi.

“Kecendrungan bergelut dengan soal soal glorifikasi dan kerja politik yang hanya mendatangkan kebaikan bagi personality dan kelompok kepentingannya masih sangat nampak dominan. Pesimisme kami, saya khawatir ini masih akan terus berlanjut di priode kedua,” ungkap Firman.

Itulah sebabnya dikatakan Firman, beberapa pesan sekaligus kritik bagi F3 jilid II, diantaranya, kurangi sensasi perbanyak esensi.

“ Terus terang lima tahun yang berlalu bahkan kalau kita lihat sampai hari ini masyarakat masih dijebak dengan pola jargon dan mistifikasi. Mulai dari jargon IJS sampai dengan KSB baik adalah suatu narasi yang sebenarnya bertentangan dengan realitas yang ada. Ada yang teriak IJS disaat banyak orang merasa sudah tidak ada yang ikhlas, jujur dan sungguh sungguh. Ada yang teriak KSB baik di tengah masyarakat mulai merasakan tidak ada lagi yang baik. Itu bisa dibuktikan dengan tidak ikut berbangganya masyarakat atas prestasi dan pencapaian yang didapatkan oleh daerahnya selama ini. Masyarakat merasa ada distorsi antara pencapaian dan realitas yang ada,” urai Firman panjang lebar.

Kemudian lanjut Firman, lemahnya cara pemerintah menginterpretasikan makna dan tugas dari jabatan kepemimpinan ini yang salah. Keliru apabila kepemimpinan itu diterjemahkan dengan selfie dan siaran langsung menurutnya bukan itu pengertian merakyat.

Sehingga kelemahan dan ketidak mampuan tersebut menurut Firman,  coba ditutup tutupi dengan cara cara yang tidak asensial. Pilihannya menjadi sensasi dan glorifikasi semata. Padahal rakyat sebenarnya tidak butuh sensasi, rakyat tidak butuh siaran langsung, rakyat tidak butuh undang artis, rakyat tidak butuh tari lumpur dan sebagainya;  tapi yang dibutuhkan oleh rakyat adalah perbaikan nasib, keterbukaan lapangan pekerjaan, stabilitas ekonomi, perbaikan iklim politik dan sebagainya.

“Nah ini yang harus dikoreksi di priode kedua ini. Kepala daerah itu tidak sama dengan kepala negara. Kepala daerah itu banyakin kerja kurangi ngomong. Jangan ngomongnya yang banyak dan hasilnya nihil. Saya berpesan mulailah kurangi sensasi dan perbanyak esensi,” tandas Firman.

Kemudian selanjutnya Firman menegaskan, metode pembangunan kedepan harus berbasis ide, narasi dan karya.

Menurutnya, secara elementer, pembangunan itu dibagi menjadi dua, yakni pembangunan yang terlihat dan pembangunan yang tidak terlihat. Pembangunan yang terlihat seperti fisik, gedung, jalan raya dan sebagainya dan yang tidak terlihat adalah kecerdasan, akhlak, moralitas, sopan santun, tata kerama dan sebagainya.

Intinya dikatakan Firman, pembangunan paling awal semestinya berfokus kepada sektor pendidikan dan ekonomi, sektor yang lain akan otomatis mengikuti.

“ Nah ini yang lima tahun berlalu kita tidak lihat komitmen itu, kalau boleh jujur lima tahun yang lalu KSB diselenggarakan berdasarkan gagasan kecil. Kalau pun gagasannya ada, tapi anatomi dari gagasan gagasan tersebut gagal di perjuangkan dan tidak mampu direpresentasikan menjadi pokok pokok realitas yang dirasakan masyarakat secara nyata. Pembangunan itu harus berbasis kepada ide, narasi dan karya. Pembangunan yang tidak berbasis kepada ide, narasi dan karya hanya akan mendatangkan stagnasi dan jalan ditempat, anggaran pun menguap begitu saja tanpa efisiensi dan terukur,”ujar Firman.

Baca Juga : Catat ! Ini 7 Langkah Strategis Bupati KSB Dalam Pembangunan Kedepan

Kemudian terkait kebiasaan mengumpul ngumpulkan orang dalam satu wadah menurut Firman sebenarnya adalah tradisi klasik yang sudah lama diinggalkan.

Dikatakannya, tidak baik menggunakan anggaran daerah untuk hal hal yang bersifat ekslusif dan golongan, karena jelas itu bertentangan dengan nilai nilai mutlak demokrasi.

Kalau pun forum yasinan dianggap sebagai medium keluh kesah masyarakat kepada pemimpinnya, dikatakan Firman, kenapa tidak mendirikan saja lembaga aduan yang formal yang setiap hari menerima kritik dan saran dari rakyatnya secara bebas dan terbuka.

Cermat Memilih Kawan  dan Hargai Perbedaan

Kepemimpinan KSB kedepan diharapkan juga mulai membiasakan diri mendengar kata kata yang pahit dari pada kata kata yang manis. Dikatajkan Firman, mengutif  Umar Bin Khattab mengatakan “sabahat yang paling baik bagi mu adalah orang orang yang sering mengatakan tentang keburukan mu”.

“ Dan kalau seandainya beliau sadar bahwa selama ini terlalu banyak orang orang yang mendekati kekuasaannya dengan penuh kepalsuan. Kalau pun ada gagasan, biasanya itu untuk kepentingan pribadinya dan bukan untuk kepentingan beliau,” kata Firman lagi.

Legasi apa yang akan ditinggalkan

Pemimpin KSB hari ini akan kembali menjadi rakyat biasa setelah lima tahun kedepan, Firman mengingatkan, alangkah lebih baik jika Bupati hari ini mulai memikirkan hal hal dan nilai nilai luhur yang dapat mendatangkan kebaikan bagi rakyat secara regional, agar nantinya setelah pensiun dari jabatan dapat dikenang lama didalam ingatan dan sanubari rakyatnya.

Apa yang dilakukan selama menjabat sebagai Bupati dua priode dapat dijadikan preseden bagi pemimpin pemimpin Sumbawa Barat selanjutnya. Karena diingatkan Firman, sudah banyak sekali contohnya di dearah daerah lain misalkan, Pemimpinnya kadang kadang tidak pernah di kenal oleh rakyatnya (generasi baru) karena nyaris tidak ada legasi dan buah tangan yang ditinggalkan.

Kemudian langkah selanjutnya menurut Firman, Bupati harus mulai memilih orang orang yang sesuai untuk mengisi pos pos jabatan penting di dalam pemerintahannya, baik klasifikasi, kapasitas maupun kapabilitasnya untuk mengelaborasi ide ide besar.

“Kalau gak gitu, ya lima tahun kedepan kita begini begini aja, gak bakal kemana mana. Intinya, beliau ingin di kenang sebagai apa oleh rakyatnya itu tergantung beliau sendiri,”kata Firman lagi.

Terakhir Firman mengatakan, proses elektoran demokrasi telah usai, dan Bupati dan pasangannya telah terpilih kembali untuk memimpin Sumbawa Barat lima tahun kedepan. Jangan lagi ada A atau B. Jangan lagi ada dendam politik dan pilih kasih terhadap lawan politik.

“ Kita semua sama di hadapan hukum dan pemerintahan. itu saja harapan kita, terakhir saya ingin sampaikan selamat dan sukses atas telah dilantiknya beliau berdua sebagai bupati & wakil bupati sumbawa barat priode 2020 – 2025, dan selamat bertugas,” pungkas Firman Ketua Gerakan Muda Sumbawa Barat.(K1)

Komentar

Komentar Anda

Berita Lainnya