Parah, 79 Siswa SMA/SMK KSB di Secreening Narkoba 23 Terpapar Shabu

“Ada Satu Sekolah 9 Sampel Diambil Semua Positif”

KMCNews – Kasus penyalahgunaan Narkotika dan obat-obatan bahan berbahaya (Narkoba), di Kabupaten Sumbawa Barat meningkat dari tahun sebelumnya.

Berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sumbawa Barat , tahun 2019 jumlah kasus Narkoba yang terjangkau oleh BNN sebanyak 44 kasus, lebih banyak dari tahun sebelumnya yang berjumlah 33 kasus.

Parahnya, dari 44 kasus yang terjangkau BNN, 23 diantaranya adalah siswa SMA/SMK ketergantungan Narkoba jenis Shabu, yang dari sisi harga terbilang cukup mahal bagi kantong para siswa.

Menurut Kepala Seksi Rehabilitasi BNN KSB, Yusmiati, A.MK jumlah 23 siswa yang terpapar Narkoba ini diketahui dari Screening Intervensi Lapangan (SIL) yang dilakukan BNN.

Dari 78 siswa yang telah dilakukan secrening, ditemukan 23 yang terpapar dan 20 diantaranya telah dirujuk untuk rehabilitasi, 3 menolak untuk rehabilitasi dengan alasan khawatir jika dipidanakan, kemudian dari jumlah 20 yang direhabilitasi tadi, 11 diantaranya telah keluar rehabilitasi.

Yusmiati tidak menampik kemungkinan jumlah siswa yang terpapar Narkoba di KSB, jumlahnya lebih besar dari yang dijangkau BNN selama 2019.

YUSMIATI, A.MK KASI REHABILITASI BNN KSB

“ Ya cukup melihat data yang ada seperti apa kemungkinannya, pernah kami masuk ke satu Sekolah (SMA/SMK-red) dari 9 Sampel yang diambil semuanya positif narkoba,”tandas Yusmiati,  sembari enggan menyebutkan nama sekolah yang dimaksud, kepada KMCNews di Kantor BNN KSB, Sabtu (5/12/19).

Yusmiati menambahkan, untuk mendapatkan Narkoba jenis Shabu,  berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap siswa yang terpapar, diperoleh dengan cara patungan harga dengan sesama siswa, dan ada juga jenis shabu yang dijual dengan paket hemat.

Sementara untuk keluar dari ketergantungan Narkoba, berdasarkan keterangan Yusmiati sejumlah siswa yang terpapar sulit lepas.

“ Bahkan ada satu siswa yang mengaku mau berhenti, namun tetangga depan belakang dan kiri kanan rumahnya masih ketergantungan sehingga ia sulit lepas, jadi lingkungan salah satu factor yang membuat siswa ini sulit lepas,”tambahnya.

Padahal disisi lain, menurut Kepala BNN KSB, AKBP Chappy Ahmad Hidayat, S.Ag, selama tahun 2019 BNN telah melakukan penyelenggaraan Advokasi sebanyak 30 kali dilingkungan Pendidikan, kemudian sebanyak 24 kali sosialisasi baik melalui media massa maupun branding melalui sarana publik lainnya.

“ Disamping itu kami juga lakukan pemberdayaan peran serta masyarakat sebanyak 4 program termasuk satu program pemberdayaan penggiat anti narkoba dilingkungan pendidikan, kemudian kegiatan sosialisasi 49 kali di Sekolah, mobil keliling dan pojok konseling,” ujar Chappy Ahmad Hidayat, dalam keterangan Pers di Kantor BNN siang tadi, Kamis (5/12/19).

Ditambahkannya, untuk menindak peredaran Narkoba baik secara umum maupun secara khusus dikalangan siswa pihak BNN mengalami kesulitan karena BNN sendiri tidak ada seksi berantas maupun penyidik.

“Jadi selama ini kami hanya melapor jika ada kasus yang dicurigai ke pihak Kepolisian, namun berdasarkan pengalaman juga untuk melakukan penangkapan tidak serta merta adanya laporan langsung eksekusi, biasanya kita menunggu beberapa hari bahkan beberapa bulan karena kadangkala pelaku ini saat dilakukan penangkapan belum tentu ada barang bukti,”pungkasnya.(K-1)