Pamsimas di Kecamatan Maluk, Dinilai Sia-sia dan Mubazir

KMCNews – Tiga dari empat desa yang mendapatkan Program Nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang ada di kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dinilai program yang sia sia dan mubazir oleh warga.

Pasalnya, program yang dilaksanakan pada tahun 2018 lalu dengan waktu pengerjaan 120 hari kalender, hingga saat ini tidak berfungsi dan gagal mendistribusikan air kepada masyarakat.

Kepada media KMCNews, Nurman, salah satu warga Desa Pasir Putih, menyampaikan peruntungan program Pamsimas ini adalah untuk masyarakat dimana keperluan air sangat dibutuhkan terutama pada saat musim kemarau.

“Apalagi air setetes dari Pamsimas, pipa sebagai sarana untuk mendistribusikan air saja ke warga tidak ditimbun. Inikan percuma” cetus, warga yang beralamat kampung ballas desa Pasir Putih yang rumahnya tidak jauh dari tower air Pamsimas.

Nurman juga menyayangkan pembuatan tower air Pamsimas di ballas dinilai tidak sesuai karena jarak cukup jauh antara tower dengan perkampungan warga. Selain posisi tower Pamsimas terlalu rendah, kondisi tower yang saat ini tidak bisa tampung air karena bocor.

“Sumur bor yang mau dipakai Pamsimas Pasir Putih sekarang ini itukan sudah ada sebelumnya dari Dinas Pertanian untuk keperluan para petani, walaupun sumur bornya ada tapi airnya tetap tidak bisa dinikmati warga karena proyeknya belum selesai, padahal peresmian sudah dilakukan tahun lalu” paparnya.

Tidak hanya di Desa Pasir Putih. Desa lain yang mendapatkan program Pamsimas di kecamatan Maluk diantaranya yaitu Desa Benete dan Desa Bukit Damai hingga saat ini air Pamsimas tidak dapat mengalir ke warga.

Warga lain. Muhjar, menjelaskan Pamsimas merupakan program nasional yang diselenggarakan dari Kementrian dengan menghabiskan anggaran yang bersumber dari APBN, APBDes, In-Cash dan In-Kand warga dengan jumlah sekitar milyaran rupiah dari empat desa tersebut.

“Program sudah jelas dan sudah dianggarkan sekitar 300 ratusan juta tiap Desa yang mendapatkan program Pamsimas, akan tetapi sampai hari ini airnya tidak muncul ke kami, warga Bukit Damai” sindir, mantan Pendamping Lokal Desa (PLD) Bukit Damai yang beberapa lalu mendapatkan penghargaan pilar teladan nasional dari Kemensos RI.

Sementara itu, Warga pantai Desa Benete, Husni Ati, menyampaikan kebutuhan air sangat diperlukan mengingat pada saat musim kemerau air sumur dirumah warga kadang kering.

“Saat ini kami masih menggunakan air sumur sendiri sedangkan air Pamsimas sudah lama tidak keluar dan kami butuh air itu” harapnya.

Sementara itu, hasil investigasi dilapangan dari empat desa yang mendapatkan program Pamsimas hanya desa Maluk yang aktif dan airnya mengalir ke warga. Selain itu, tiga desa diantaranya yaitu Desa Pasir Putih, Desa Benete dan Desa Bukit Damai airnya tidak jalan dan terlihat penampungan air Pamsimas dari tiga Desa tersebut tidak aktif.

Selain itu, pompa satelit yang berada didalam sumur bor dari Pamsimas desa Pasir Putih tidak terpasang dan panel kelistrikan didalam area gardu tidak tertata dengan baik. Demikian (K-If)