Musim Tanam Kedua Petani Taliwang Kembali Menjerit

KMCNews – Hamparan sawah lahan pertanian mulai dari Lang Ene hingga lahan di Tiu Pasih yang ada di Kecamatan Taliwang, kesulitan air guna bercocok tanam.

Akibatnya, ratusan hektar lahan pertanian disepanjang jalur irigasi BRKa 10 hingga ke wilayah hilir BRKa 16 terancam gagal tanam.

Sejumlah petani setempat khawatir jika kondisi seperti ini, dalam beberapa pekan kedepan belum juga teratasi, benih yang sudah disiapkan untuk ditanami akan kadaluwarsa, akibatnya petani akan merugi.

Salah satu pemilik lahan, Arham warga Lingkungan Sampir Taliwang,  yang memiliki lahan disekitar Lang Ene, mengeluhkan kondisi ini.

Menurutnya, masalah minimnya pasokan air dari saluran irigasi Kalimantong II mulai dari BRKa 10 hingga hilir terjadi hampir setiap tahun terutama memasuki musim tanam kedua.

Pemerintah KSB terutama instansi terkait dalam hal ini dikatakan Arham, berulang kali dilaporkan kendala yang dihadapi petani setempat, namun kerap kali mengecewakan dan beralasan tidak memiliki kewenangan karena ini menjadi tanggung jawab Provinsi.

“ Maksud kami normalisasi saluran irigasi, meskipun kewenangan Provinsi, paling tidak adalah intervensi sedikit dari Dinas PU khususnya bagian pengairan, masa tidak ada solusi setiap tahun,”keluhnya.

Solusi yang diharapakan Petani dikatakan Arham, adanya inisiatif yang dilakukan secara konsisten oleh Pemerintah, misalnya dengan mengajak petani gotong royong untuk normalisasi dimana saluran yang bermasalah, kemudian pengawasan rutin dan adanya kerjasama dan kontrol bagian juru pintu BRKa.

“ Akibat tidak adanya pengawasan petani melakukan inisiatif sendiri dan memegang kunci sendiri membuka saluran air ke sawah mereka masing-masing, petugas seperti malar (Petugas pintu air) kini nyaris tidak berfungsi,”ungkapnya.

Ditegaskanny lagi,, musim tanam kedua tidak seharusnya pasokan air minim, jika pemerintah hadir memberikan solusi.

“ Musim Tanam kedua, seharusnya air masih memadai untuk kebutuhan pengairan padi petani, tapi realitanya berbicara lain, kekhawatiran kita terhadap Covid-19 cukup tersita sehingga Pemerintah lupa bahwa kelaparan sedang mengintai,”imbuhnya risau.

Arham menambahkan,untuk menyikapi kondisi yang ada petani terpaksa berinisiatif mencari solusi sendiri meskipun membutuh dana produksi yang makin membengkak, seperti menggunakan dan menyiapkan mesin bor.

“ Ya mau tidak mau, mesin bor jadi solusi tahu sendiri tentu makan biaya lagi, kalau dipaksakan menunggu yang tidak jelas malah rugi makin besar dimana benih bisa kadaluwarsa,”pungkasnya.

Sementara itu, pantauan KMCNews, Jum’at (8/5/2020) di sepanjang saluran irigasi BRKa 10 hingga ke hilir memang nampak kering, namun di BRKa 11 dan seterusnya hingga ke hulu nampak pasokan air minim.

Disejumlah titik saluran irigasi yang ada airnya sebagian, nampak di embung kembali didalam saluran irigasi oleh petani sebagai solusi agar bisa masuk ke lahannya.  

Sementara sebagian saluran juga mengalami kedangkalan akibat longsor dimana tanah dan pasir mengisi saluran irigasi, menurut petani setempat saluran irigasi seperti itu ada sekitar 1 Km lebih.(K1)

TONTON VIDEO DISINI :