Mensos Semangati Anak-anak Korban Gempa

KMCNews, Taliwang – Langkah tegas Menteri Sosial ( Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita didampingi Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa Barat, DR.Ir. H.W. Musyafirin MM – Fud Syaifuddin, ST bergegas masuk menghampiri tenda anak-anak korban gempa di lapangan Graha Fitrah KTC,

sesaat setelah ia menyerahkan bantuan kepada pemerintah setempat, Kamis Siang (30/8). Ia mendekati deretan anak-anak yang saat itu riang bernyanyi menyambut kedatangannya sembari berebut mengulurkan tangan bersalaman dengan sang Menteri. Agus Gumiwang pun melayani mereka satu persatu, untuk kemudian berbaur dan menyemangati anak – anak.

” Anak-anak apa khabarnya? Hari ini tetap masuk sekolah kan?,” sapa Mensos seraya mengusap kepala salah seorang putri berusia sekitar 10 tahun. Bocah berkerudung dan mengenakan seragam kaos olahraga tersebut mengangguk seraya meraih dan mencium punggung tangannya.

Menurut Mensos, Berdoa, bermain dan bernyanyi adalah salah satu proses dari terapi psikososial dan penyembuhan trauma karena dipastikan anak-anak bahkan orang dewasa juga mengalami trauma akibat bencana.

“Anak-anak adalah salah satu kelompok rentan dalam sebuah bencana. Oleh karena itu segera akan saya kirimkan Tim Layanan Dukungan Psikososial Kemensos untuk memberikan trauma healing kepada anak-anak,” tuturnya.

Mensos menyebutkan layanan dukungan psikososial merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan dalam penanganan bencana. Apalagi hal itu sudah diatur dalam peraturan tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana yang menjelaskan bahwa pemenuhan hak dasar bagi korban bencana adalah pemenuhan kebutuhan air bersih dan sanitasi, sandang, pangan, pelayanan kesehatan, pelayanan psikososial dan penampungan serta tempat hunian.

“Dalam hal proses pemberian layanan psikososial anak-anak ini, tim yang akan diturunkan nanti akan mengajarkan tentang pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menghadapi bencana,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut Mensos, sebagai negara yang rawan bencana, tidak saja anak – anak, masyarakat juga harus tangguh dalam menghadapi bencana.

“Dan untuk mendorong masyarakat sadar bencana, harus ditanamkan sejak dini pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menghadapi bencana tersebut,” tegasnya.

Ia tak menampik, banyaknya jumlah pengungsi yang cenderung bertambah menunjukkan masyarakat masih mengalami trauma.

“Padahal, belum tentu semua pengungsi itu rumahnya hancur. Bisa jadi rumahnya hanya retak, tetapi mereka masih trauma tinggal di dalam rumah, jadi memilih untuk tinggal di posko pengungsian,” tandasnya.

Seperti diketahui, berdasarkan data dari Posko utama Penanggulangan Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), tercatat 4 orang meninggal dan 15.361 rumah rusak akibat gempa 7.0 SR pada Minggu Malam (19/8) lalu. 4 (empat) orang meninggal tersebut masing-masing 3 (tiga) orang di Kecamatan Seteluk dan 1 (satu) orang di Kecamatan Taliwang. Sedangkan korban luka berat sebanyak 9 (sembilan) orang dan luka ringan 59 orang.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa berkekuatan 7,0 scala richter (SR) di Lombok NTB merupakan aktivitas baru. Gempa tersebut berbeda dengan aktivitas gempa yang terjadi sebelumnya pada 5 Agustus 2018 lalu. Dengan memperhatikan lokasi episenter gempabumi Magnitudo 6,9 yang terletak di ujung timur Pulau Lombok dan diikuti sebaran episenter gempa yang mengikutinya yang membentuk kluster episenter dengan sebaran ke arah timur hingga di sebelah utara Sumbawa Barat, maka disimpulkan bahwa gempa yang terjadi merupakan aktivitas gempa baru yang berbeda dari gempa berkekutan Magnitudo 7,0 yang terjadi pada 5 Agustus 2018 lalu. (K.SZI/K D)