oleh

Meluapnya Air di Jalan Taliwang: Antara Kondisi Alami, Pekerjaan Saluran, dan Perilaku Masyarakat

Taliwang, sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Sumbawa Barat, kembali mengalami fenomena yang akrab di musim hujan meluapnya air ke badan jalan, bahkan ke area permukiman, meski curah hujan hanya mengalami sedikit kenaikan.

Kejadian ini kerap mengganggu aktivitas masyarakat, menimbulkan kemacetan, dan meningkatkan risiko kesehatan.

Fenomena ini perlu dilihat tidak sebagai peristiwa tunggal, tetapi sebagai simpul dari beberapa aspek yang saling terkait, yaitu: kondisi infrastruktur drainase, waktu pelaksanaan pekerjaan, dan penerapan perilaku hidup bersih oleh masyarakat melalui kerangka Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Secara alami, peningkatan curah hujan meski sedikit dapat mempercepat limpasan permukaan jika tanah sudah jenuh atau daya serap berkurang.

Namun, luapan air yang terjadi di jalan-jalan protokol Taliwang menunjukkan bahwa kapasitas saluran drainase yang ada mungkin tidak lagi memadai. Hal ini diperparah oleh sedimentasi (pendangkalan) dan potensi penyumbatan di titik-titik tertentu.

Pengerjaan galian parit atau perbaikan drainase di musim hujan sendiri, meski mungkin didasari urgensi, memiliki kelemahan teknis.

Tanah yang basah rentan terhadap erosi, pekerjaan menjadi lebih sulit, dan material yang terkikis justru dapat menjadi sedimentasi sementara yang memperburuk aliran air. Di sisi lain, menunda perbaikan hingga musim kemarau bisa berarti membiarkan kerusakan yang ada semakin parah.

Salah satu program Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat pada kepemimpinan periode sebelumnya dalah STBM. Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) memiliki lima pilar, dan dua yang sangat relevan dengan fenomena ini adalah “Pengelolaan Sampah Rumah Tangga” dan “Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga”.

Kebocoran septik yang tidak sesuai standar atau pembuangan air limbah cucian dan dapur langsung ke saluran dapat mencemari dan menambah volume air di parit.

Sampah plastik dan residu rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik sering menjadi penyebab utama penyumbatan saluran drainase, mempersempit penampang dan menghambat aliran.

Fenomena banjir genangan di jalan menjadi cermin bahwa tantangan STBM bukan hanya pada aspek stop buang air besar sembarangan, tetapi juga pengelolaan limbah cair dan padat masih perlu ditingkatkan secara kolektif.

Dari sisi perencanaan daerah, fenomena ini menyoroti pentingnya sinkronisasi waktu pelaksanaan proyek infrastruktur dengan pola iklim.

Pengerjaan saluran di musim hujan, jika tidak disertai manajemen risiko yang ketat (seperti penyediaan pompa darurat, barikade sedimentasi, dan sistem pembuangan sementara), dapat menjadi kontraproduktif. Selain itu, perlu ada evaluasi terhadap desain dan jaringan drainase kota yang mungkin belum mengikuti perkembangan urbanisasi dan perubahan iklim.

Koordinasi antar dinas (PUPR, Lingkungan Hidup, Kesehatan) menjadi kunci untuk pendekatan yang holistik, bukan sekadar responsif saat banjir terjadi.

Maka dari itu, meluapnya air di jalan-jalan Taliwang saat hujan adalah gejala dari sebuah sistem yang perlu diperkuat. Sistem itu mencakup infrastruktur fisik yang dirancang dan dipelihara dengan baik, tata kelola proyek yang cermat, dan fondasi perilaku masyarakat yang bertanggung jawab terhadap lingkungannya melalui prinsip-prinsip STBM.

Dengan sinergi dari ketiga pihak pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga genangan air tidak lagi dilihat sebagai “ritual tahunan” yang tak terelakkan, melainkan sebagai masalah bersama yang bisa dikelola dan diminimalisir dampaknya.

Kota Taliwang yang bersih dan bebas banjir genangan dimulai dari kesadaran kolektif bahwa setiap tetes air hujan harus dialirkan dengan baik, dan setiap sampah kita adalah potensi penyumbatnya.

Oleh : Ns.Oman, M.Kep (Dosen Fakultas Kesehatan Universitas Samawa)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *