LSM LIPPAN : Konflik Lahan Smelter PT AMNT Harus Segera Tuntas

KMCNews –  Perusahaan tambang operator Batu Hijau,  PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PT AMNT) ditunggu komitmennya dalam pembangunan Smelter (pemurnian hasil tambang) di Sumbawa Barat, pasalnya melalui tim percepatan pembangunan Smelter menyampaikan jika masalah pembebasan lahan untuk lokasi pembangunan smelter ini diperkirakan tuntas bulan Juli, namun hingga agustus belum juga selesai.

Justru sebaliknya, fakta-fakta dilapangan cukup memperlihatkan ada upaya dari perusahaan PT AMNT  mengkambing hitamkan masyarakat, sehingga seolah-olah masyarakatlah yang menolak dan menghambat pembangunan smelter.

“ Inilah opini yang coba dibangun oleh PT. AMNT dengan berbagai macam strategy dan taktic sehingga bisa mendapatkan lahan dengan harga relatif murah dan jauh dari harga normalnya,” tuding Musmuliadi, dari  Lembaga Swadaya Masyarakat Lembaga Independent Persatuan Pemuda (LSM LIPPAN- KSB), dalam siaran Persnya, kepada KMCNews, Jum’at (16/8).

Musmuliadi, sangat menyesalkan sikap PT. AMNT yang dinilai inkosisten  membangun Pabrik Smelter  dan terkesan cenderung mengadu domba masyarakat lokal.

“ Padahal kalau kita jernih memandang persoalan smelter ini kuncinya ada diperusahaan itu sendiri.Masyarakat pada prinsipnya rela melepas lahannya untuk lokasi pembangunan smelter, asalkan dalam proses pembebasan lahan  harganya masuk dan tidak dirugikan,” tambahnya.

Baca Juga : Wakil Menteri ESDM Sebut Smelter AMNT Akan Selesai Akhir 2022

Setelah proses pembebasan lahan selesai, Lippan KSB mendesak PT. AMNT untuk segera menentukan deadline waktu dan menyajikan schedule secara detail terkait dengan pembangunan smelter.

Schedule tersebut menurut Musmuliadi harus detail, kapan memulai dan kapan berakhir.Menurutnya ini penting supaya publik tidak lagi bertanya dan berspekulasi negatif terhadap perusahaan.

“ Ini bukan masih dalam bentuk cerita atau narasi, tapi ada schedule-schedule di situ supaya tidak bermunculan tanda tanya kapan mulai membangun. Kepastian pembangunan smelter harus diperjelas. Setelah jelas kapan smelter dibangun, maka pasti industri turunannya akan mengikuti nantinya. Saya kira industri turunan akan berlomba-lomba setelah melihat adanya smelter,”tandas Mus Bree sapaan akrab Musmuliadi.

Mus Bree mengingatkan pihak terkait bahwa,  kewajiban smelter ini diatur dalam Peraturan Pemerintah No 1 tahun 2017 tentang mineral yg merupakan turunan kedua dari UU Minerba No. 4 tahun 2009, dimana pemerintah mengharuskan perusahaan tambang pemegang KK untuk mengubah izinnya menjadi IUPK dengan beberapa syarat.

Adapun syaratnya adalah lima tahun wajib membangun pabrik pemurnian atau dikenal dengan istilah Smelter, artinya PP 1 tahun 2017 mewajibkan smelter dibangun.

Sementara itu seperti dilansir media sebelumnya, PT AMNT berkomitmen untuk menyelesaikan pembangunan fasilitas pengolahan dan permurnian dalam jangka waktu 5 tahun sesuai ketentuan dalam PP Nomor 1 Tahun 2017 yang dimaksud dan diperkirakan selesai akhir 2022.

Di tahun 2019 PT AMNT melalui perusahaan afiliasinya, yaitu PT Amman Mineral Industri (PTAMIN) telah menjadwalkan keputusan investasi final (Final Investment Decision, FID), finalisasi Front End Engineering Design (FEED) sehingga dapat memulai tahap konstruksi (Engineering Procurement & Construction, EPC) pembangunan fasilitas pemurnian konsentrat tembaga yang mencakup fasilitas pemurnian logam mulia (precious metal refinery).

Pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral PT AMNT direncanakan dengan kapasitas input sebesar 1 juta ton per tahun dan dapat ditingkatkan hingga 1,6 juta atau 2 juta ton per tahun. Kapasitas tersebut dapat memproses konsentrat baik dari tambang Batu Hijau, maupun suplai potensial dari tambang Elang (saat ini dalam tahap eksplorasi) dan sumber pemasok konsentrat lainnya.(K-1)

%d bloggers like this: