oleh

Keramba Ikan Nila Tumbuh di Musim Kemarau, Setitik Harapan Ditengah Krisis

Warga Lingkungan Motong Harap Didatangi dan Disemangati Pemerintah Sebagai Usaha Kedepan

Sumbawa Barat – Sekecil apapun peluang sepatutnya dimanfaatkan dengan baik, terlebih kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini ditambah sulitnya kesempatan kerja di Sumbawa Barat.

Musim kemarau dimana air sungai surut dan dangkal menjadi kesempatan bagi sebagian warga Kota Taliwang, seperti belasan orang warga di Lingkungan Motong Kelurahan Kuang Taliwang memanfaatkan kondisi tersebut dengan budidaya ikan nila dengan model leramba di sepanjang sungai.

Pantauan KMCNews di lokasi keramba sepanjang sungai Lingkungan Motong, nampak belasan keramba berada di tengah-tengah sungai yang terbuat persegi dengan bahan dari bambu. Ukuran keramba yakni lebar 2 meter dengan tinggi 1 meter, untuk membuat satu keramba warga setempat harus merogoh kocek sebesar Rp. 500 ribu sd Rp 1 juta tergantung modal dan bahan yang ada.

Salah seorang warga setempat, Syarifuddin mengaku untuk mendapatkan bibit ikan nila mereka mendapat bantuan dari Dinas Perikanan Sumbawa Barat, namun ada juga sebagian rekannya yang lain harus beli di kolam ikan di Danau Lebo.

Syarifudiin Warga Budidaya Keramba Ikan Nila di Lingkungan Motong

“ Kami berusaha membesarkan bibit ini hingga panen nanti selama 3-4 bulan kedepan,” ujarnya yang sudah hampir sebulan budidaya ikan keramba.

Kesulitan dan tantangan yang dihadapi warga dalam budidaya ikan keramba ini dikatakan Syarifuddin yakni soal penyediaan pakan ikan, dimana menurutnya untuk mendapatkan pakan harus membeli di toko-toko yang ada dengan modal sendiri meski ia dan rekannya mengaku cukup kesulitan.

“ Ya harus bagaimana lagi mau tidak mau kami harus siapkan dana khusus untuk pakan itu, kebutuhan pakan ini cukup banyak karena kami harus beri makan ikan 3 kali dalam sehari,”katanya.

Khusus pakan ini, Syarifuddin bersama rekannya berharap ada support lagi dari pemerintah KSB melalui Dinas terkait terutama soal bantuan pakan, karena harus diakui sebagian dari warga budidaya keramba ini menggantungkan harapan dari hasil budidaya tersebut untuk menambah penghasilan.

Masalah lain yang dihadapi dijekaskan Syarifuddin adalah soal sampah, dimana setiap malam di jembatan Sampir dekat lokasi keramba ada saja warga yang membuang sampah ke tengah-tengah sungai melalui jembatan tersebut. Akibatnya kadang sampah menumpuk di sekitar keramba.

“ Tantangan selain tadi disebutkan, ya soal ikan yang mati khusus masalah ini memang sejauh ini jumlah ikan yang mati sedikit antara 2-5 ikan setiap hari, sebabnya kita tidak tahu semoga ada pihak Pemerintah yang mengerti soal ini dapat turun bantu kami beri pengetahuan atau semacam arahan,” harapnya.

Menyinggung masalah air sungai, ini juga menurut Ahyar warga lainnya menjadi ke khawatiran kalau sewaktu-waktu air sungai meluap tiba-tiba, maklum saja kondisi cuaca dimana hujan kadang tak tentu tiba-tiba datang hujan dan air sungai pun meluap.

“ Ya kalau kita lihat cuaca saat ini sepertinya memang kemarau, tapi kalau hujan tiba-tiba datang, wah kita cukup was-was karena sebelumnya juga ada keramba rekan kami yang terpaksa terseret arus sungai, ya semoga kita bisa penenlah,” ujarnya.

Ahyar menambahkan ia bersama rekannya sebenarnya berharap ada metode lain budidaya ikan nila ini, namun tentu untuk tahap awal ada pengawalan dan bimbingan Pemerintah.

Terpisah, Sekretaris Dinas Perikanan Sumbawa Barat Slamet Riadi, S.Pi.,M.Si kepada KMCNews mengatakan, ia mengakui sebelumnya memang telah membantu bibit ikan nila untuk warga lingkungan Motong tersebut, khusus masalah pakan ia berjanji akan penuhi kedepan dan iapun mengaku siap turunkan tim dari Dinas untuk memantau warga budidaya ikan nila keramba itu.(K2)

Komentar

Komentar Anda

Berita Lainnya