Kampanye F3 Menuai Kecaman, Statemen Koko Dipimpin Jin dan Iblis Dinilai Pembodohan Publik

KMCNews – Kampanye pasangan F3 (HW Musyafirin dan Fud Syaifuddin) yang dihadiri Calon Wakil Bupati Fud Syaifuddin di Desa Ai Kangkung Kecamatan Sekongkang,Kamis 1 Oktober menuai kecaman.

Pasalnya statemen Sekretaris DPC Partai Gerindra dihadapan puluhan ibu-ibu peserta kampanye yang menyatakan, jika Kolom Kosong menang akan dipimpin Jin atau Iblis adalah bentuk pembodohan publik dan dinilai tidak sepantasnya dilakukan oleh elit Partai.

Pernyataan Sukardi ini beredar luas di Media social setelah di upload salah satu akun yang kemudian direkam awak media, dan mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Salah satu tokoh muda KSB, Usman Renggo menyayangkan statemen tersebut dan menilai sangat merusak iklim demokrasi.

Menurutnya, elit Partai ini tidak mengerti regulasi UU dimana kolom kosong itu adalah wadah dan sarana untuk menyalurkan aspirasi masyarakat yang tidak suka dengan kinerja pemerintah.

” Itulah gerakan oposisi, dan mana mungkin pemerintah bisa memuaskan semua orang. jadi pernyataan Sukardi itu adalah sesat, dan menyesatkan, itulah pembodohan publik,” tandas Usman Renggo, kepada media.

Padahal menurut Usman Renggo, dalam aturan yang ada jika Koko yang dipercayai rakyat, maka pemimpin daerah akan diatur oleh Pemerintah Provinsi melalui persetujuan Pemerintah Pusat.

” Yang jelas Pemerintah hadir tujuannya mensejahterahkan rakyat, Koko dijamin UU dan diatur dalam demokrasi kita, jadi jangan bodohi rakyat mereka sudah cerdas, apalagi dengan menyebut jin dan setan malah rakyat jadi gerah,” tegas Usman Renggo

Dalam Video yang beredar berdurasi sekitar 3 menit Sukardi menyatakan, pada Pilkada tahun 2015 lalu ada 3 pasangan dan F3 menang di Ai Kangkung.

Kemudian ia melanjutkan saat ini ada cuma satu pasangan, ada disebalah kirinya kolom kosong.

” Lamin tau na (Kalau Orang – red) memilih kolom kosong, so baing na pimpin sia (itu yang akan pimpin Ibu-red) Jin dan Iblis, sia roa (anda mau-red),” katanya dengan menggunakan bahasa Taliwang yang disambut tawa peserta Kampanye.

Dikonfirmasi media terkait statemen ini, Ketua Koalisi Rakyat Luar Biasa Norvie Aperiyansani menyatakan, itu adalah ekspresi dan tafsir perorangan.

” Saya fikir itu adalah ekspresi dan tafsir perorangan yang bisa jadi mengidentikkan makna kosong dengan sesuatu yang tidak berwujud dan kontraproduktif bagi daerah otonom,” katanya.(K1).