Informasi Gempa Hoax Bikin Warga Resah 

BMKG : Belum Ada Teknologi Yang Dapat Memprediksi Gempa Dengan Tepat

KMCNews, Taliwang – Disaat ribuan warga Lombok dan sebagian wilayah lainnya mengungsi, meninggal, terluka hingga kehilangan tempat tinggal akibat guncangan gempa dahsyat berkekuatan 7.0 Skala Richter (SR) yang terjadi, Minggu (19/8) malam, masih saja ada oknum yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan situasi menyebar hoax.

Seperti dibeberapa wilayah, banyak warga yang menerima pesan berantai bahwa akan terjadi gempa dengan kekuatan yang lebih besar pada Senin (20/8) malam pukul 22:56 Wita.

Tidak sedikit warga yang mempercayai berita itu. Alhasil, mereka merasa resah, khawatir, dan was-was.

Menanggapi pesan berantai itu, Kepala BMKG Pusat, Dwikorita Karnawati membantah informasi tersebut atau hoax. Ia menegaskan, hingga saat ini belum ada aplikasi yang mampu memprediksi terjadinya gempa. Dwikora mengimbau warga untuk mengikuti informasi perkembangan gempa dari BMKG.

” Isu tersebut merupakan kabar bohong atau hoax karena tidak mempunyai dasar ilmiah yang jelas,” jelas Dwikora melalui siaran pers yang diterima KMC News, Minggu (20/8).

Dwikora pun, dalam penjelasannya, tidak pernah menyampaikan serta menyebarluaskan informasi tersebut.

“Sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi dengan tepat, kapan, di mana, dan berapa kekuatan gempa yang akan terjadi,” cetusnya.

Disisi lain, Dwikorita menyatakan Gempa dengan kekuatan 7.0 SR yang mengguncang Pulau Lombok, Minggu (19/8), pukul 22.56 Wita bukanlah gempa susulan. Pihaknya sudah melakukan update dari gempa 7.0 SR, pukul 22.56 Wita. Hasilnya ternyata kekuatan gempa 6,9 SR dengan kedalaman 18 Km. Lokasinya 8.44 LS dan 116.68 BT.

“Setelah diperbaharui gempa menjadi 6,9 SR berdasarkan data dari 144 sensor,” sebut Dwikorita.

Lebih jauh dikatakan, dengan memperhatikan lokasi episenter, gempa bumi 6,9 SR terletak di ujung timur Pulau Lombok. Gempa itu diikuti sebaran episenter yang mengikutinya dan membentuk kluster episenter dengan sebaran ke arah timur hingga di sebelah utara Sumbawa Barat.

“Maka dapat disimpulkan bahwa gempa yang terjadi merupakan aktivitas gempa baru yang berbeda dari gempa berkekutan 7,0 SR yang terjadi pada 5 Agustus 2018 lalu,” sebutnya.
Meskipun seluruh aktivitas gempa yang terjadi berkaitan dengan struktur geologi sesar naik Flores, tetapi antara gempa 7,0 SR dan gempa 6,9 SR memiliki bidang deformasi yang berbeda.

Hasil analisis mekanisme sumber gempa ini menunjukkan gempa ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Dampak dari gempa 6,9 SR berdasarkan laporan dari masyarakat dan hasil analisis peta guncangan menunjukan bahwa guncangan dirasakan di daerah Lombok Utara dan Lombok Timur.

Sementara itu di Lombok Barat, Mataram, Praya dan Sumbawa memiliki intensitas V-VI MMI. Guncangan juga dirasakan di Denpasar dan Waingapu dengan skala III-IV MMI, di Ruteng dengan skala II-III MMI, di Makassar I-II MMI. Skala intensitas VI-VII MMI artinya struktur bangunan standar dapat mengalami rusak sedang dan bangunan tidak standar dapat mengalami rusak sedang hingga berat.

“Sedangkan skala intensitas III-IV MMI artinya semua orang merasakan namun belum terjadi kerusakan, tapi dalam kondisi bangunan yang sudah terguncang beberapa kali bisa saja menimbulkan kerusakan,” bebernya.Hingga tanggal 20 Agustus 2018 pukul 01.25 Wita, hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi 22 aktivitas gempa susulan (aftershock), di antaranya 3 gempabumi dirasakan.

“Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” demikian Dwikorita. (K.SZI/ K D)