Ikan Arapaima Tak Terdeteksi Di KSB

KMC News,Taliwang – Meski di Indonesia peluang penyebaran ikan predator Arapaima gigas cukup tinggi, namun pihak Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbawa Barat menyebut penyebaran spesies ikan invasif tersebut tidak terdeteksi keberadaannya. Selain karena suhu perairan diatas 25-29 ºC dan pH 6.0-6.5, iklim perairan diseluruh wilayah Sumbawa Barat tidak sama dengan habitat aslinya.

“Jadi bisa saya katakan ikan sejenis itu tidak ada di perairan kita,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Budidaya Tangkap pada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbawa Barat, Noto Karyono.

Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 16 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2002, pihaknya terus meningkatkan koordinasi dan pengawasan terhadap peredaran spesies ikan invasif. Ini dilakukan untuk memastikan keberadaan ikan perairan lokal tetap aman.

Untuk itu masyarakat diingatkan untuk tidak memelihara hingga melepas ikan predator ini di perairan darat karena sangat berbahaya, selain juga dapat merusak konservasi sumber daya alam, khususnya perikanan.

“Keberadaan ikan pemangsa di sungai ini cukup berbahaya, karena lambat laun mereka berkembang dan menginvasi sederetan ikan aktif,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, Arapaima gigas telah ditetapkan sebagai ikan asing invasif yang dilarang pemasukannya ke wilayah Republik Indonesia. Arapaima termasuk dalam 152 jenis ikan berbahaya yang dilarang berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41/PERMEN-KP/2014 tentang Larangan Pemasukan Jenis Ikan Berbahaya dari Luar Negeri ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.

Noto berpendapat, hal ini memang harus menjadi perhatian serius karena keberadaan predator ini di perairan dapat membahayakan lingkungan dan ekologi.

“Peristiwa seperti yang terjadi di Sungai Brantas Jawa Timur tidak boleh terjadi di Sumbawa Barat. Masyarakat harus tau ikan Arapaima ini tidak boleh dilepas hidup, baik di perairan Sungai atau danau,” pungkasnya.(K1)