FB Atasnamakan Haji Firin Gentayangan di Dunia Maya, Apakah Itu Buzzer

KMCNews – Dalam sebulan terakhir warganet Sumbawa Barat diserbu pertemanan akun Facebook (Fb) organik personal atas nama dan embel-embel Haji Firin (Dr.H.W Musyafirin) Bupati dan Calon petahana.

Kemunculan akun-akun Fb tersebut menjadi sorotan dan perhatian warganet (warga akses internet-red) khususnya di KSB, sebab bukan hanya satu dua akun, namun belasan akun sekaligus datang meminta konfirmasi pertemanan warganet.

Ketika datang pertemanan bersamaan tadi, warganet pun tak jarang yang merasa kebingungan siapa sebenarnya pemilik akun, bagi sebagian paham mereka pasti tahu itu akun palsu, namun bagi yang tak paham embel-embel nama haji Firin tentu menjadi tanda tanya, itu haji firin asli sebagai pengelolah akun atau orang tertentu yang kendalikan.

Apakah itu untuk kepentingan Pilkada 2020 Desember, pantauan KMCNews dari beberapa postingan akun-akun Fb tadi jelas mengarah kesana dan ini biasa disebut sebagai buzzer dalam dunia maya khususnya di medsos.

Facebook atasnamakan Haji Firin Terpantau di Dunia Maya

Istilah buzzer atau pendengung sebenarnya sudah lama ada. Makin dikenal ketika media sosial mulai masif dimanfaatkan sebagai channel komunikasi pemasaran.

Baik untuk komunikasi pemasaran sebuah produk, jasa, sampai komunikasi “pemasaran” di bidang politik.

Menurut Kepala Pusat Studi Forensika Digital Universitas Islam Indonesia, Yudi Prayudi seperti dikutip KMCNews dari media Suara Merdeka mengungkapkan, buzzer dalam arti yang positif sebenarnya bentuk lain dari seorang influencer atau rainmaker, yaitu seseorang yang mampu mempengaruhi follower (bisa jadi pengunjung, pembaca,teman, fans), sehingga memberikan efek buzz di media sosial.

Dalam konteks politik, buzzer akan meramaikan media sosial dengan tujuan menyebarkan propaganda pro atau anti pemerintah atau partai politik, menyerang kampanye, mengalihkan isu penting, polarisasi, dan menekan pihak yang berseberangan.

Buzzer dan influencer adalah keniscayaan dalam memanfaatkan teknologi informasi dan media social untuk kepentingan kampanye digital.

Keduanya sama-sama dibutuhkan untuk meraih hati banyak pengguna sosial media serta untuk efektivitas tercapainya target kampanye.

Berbeda dengan jasa/pekerjaan dalam dunia konvensional yang mengenal tempat dan jam kerja, bekerja dalam jasa buzzer tidak mengenal tempat dan jam kerja, harus standby 24 jam, any time any where. Hal ini tentunya berdampak pada cost yang diperlukan.

Bahkan secara teknis, akun buzzer tidak hanya dijalankan manusia, namun juga dijalankan oleh mesin computer dalam bentuk bot dan cyborg.

Karena itu tidaklah heran bila ada informasi yang menyebutkan bahwa cost untuk menjalankan jasa sebagai buzzer bisa mencapai angka Rp 50 juta/orang, tergantung dari cakupan serta akun dan konten yang dikelolanya.

Mencermati Kampanye Digital via Medsos dalam Politik Lokal KSB terutama menghadapi Pilkada, salah satu praktisi Medsos lokal KSB yang enggan namanya disebutkan menyatakan, fenomena pemanfaatan medsos dalam Pilkada KSB sudah terjadi sejak Pilkada 2010 lalu, ketika Fb belum begitu ramai karena smartphone belum mendominasi, namun menurutnya pemanfaatannya cukup efektif terutama dalam konteks penyebaran dan visualisasi gambar dan video sebagai propaganda.

” Nah untuk Pilkada mendatang Medsos akan menjadi instrumen utama dalam propaganda dan kampanye, selain karena sudah menjadi kebutuhan masyarakat modern juga situasi Pandemi Covid-19 yang menuntut proses Pilkada tidak seperti biasanya dengan kehadiran tatap muka ribuan massa,” ujarnya.

Pengamat ini menyarankan jika nantinya medsos digunakan kandidat sebaiknya jangan menggunakan nama calon di embel – embel akun kecuali memang benar akun itu dikelolah sendiri baik dalam bentuk fb personal organik maupun fb halaman oleh calon itu sendiri.

” Bisa jadi akan ada yang berani meniru nama calon tadi oleh oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab dan digunakan untuk kepentingan yang negatif, maka itu yang mencoba mengambil peran itu juga harus hati-hati perlu diingat ada UU IT,” katanya.

Ia pun menyarankan jika memang Kampanye Digital sebagai bagian dari strategi calon, baiknya gunakan akun asli saja, dan melibatkan tokoh yang memiliki akun fb sebagai influencer, baik tokoh agama, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat.

Paling penting menurutnya konten dan isi dari akun mampu mempengaruhi warganet, baik dari sisi narasi, memahami masalah dan paham sejarah dan metadata jejak digital setiap petistiwa yang terjadi disamping menghadirkan peristiwa kekinian yang tersaji dengan desain konten yang menarik baik teks,gambar dan audio visual.

” Terakhir jangan Buper namun siap di Bully itu resiko dari propaganda dan kampanye Digital, semua akan berjalan secara wajar jika desainnya juga wajar,” demikian ujar pengamat Medsos ini.(K1).