Facebooker KSB ” Perang ” Statement, Juadi Majid : Mesti Belajar Dari Konflik Pilkada DKI

KMCNews, Taliwang – Sejak Calon Presiden ( Capres ) Joko Widodo dan Prabowo Subianto resmi mengumumkan calon wakil presidennya hingga mendaftar ke KPU RI pada, Jum’at (10/8), jejaring media sosial (Medsos) Facebook khususnya di Kabupaten Sumbawa Barat layaknya medan perang.

Status masing – masing pemilik akun beragam mulai dari penyerangan hingga pembelaan terhadap Capres – Wapres yang didukung.

Ada juga komentar positif tapi terkadang ditanggapi dengan hinaan dan fitnah.Media memantau setidaknya ada tiga kelompok yang terlibat “perang” statement dalam jejaring yang diciptakan Mark Elliot Zuckerberg itu. Kelompok pertama adalah pendukung Jokowi – KH Ma’ruf Amir, Kelompok Kedua pendukung Prabowo Subianto – Sandiaga Uno dan ketiga adalah kelompok netral.

Berbicara dengan media di Lesehan Tana Mira Taliwang, aktivis Media Social, Juadi Majid menyatakan, aura Pilpres 2019 mendatang cukup menyedot perhatian publik yang cukup tinggi. Kali ini dari semua kalangan ikut ambil bagian dengan harapan pelaksanaanya haruslah berjalan aman, tertib dan damai.

” Kita mesti belajar dari konflik horizontal yang cukup tajam antara pendukung pasangan calon seperti di Pilkada DKI Jakarta 2017. Untuk itu, komitment Pemilu Aman, Tertib dan Damai ini harus tetap terjaga,” ungkapnya.

Hanya saja tambahnya, terlepas dari siapa yang akan menjadi pilihan hati rakyat nanti, itu adalah hak masyakat yang tentunya dengan mengamati hingga mencari tahu sepak terjang masing-masing kandidat.

” Prinsipnya dalam berdemokrasi itukan kita wajib mengedepankan ahlak yang santun. Begitupun dalam berMedsos, tidak boleh menjatuhkan karakter, tidak boleh menghujat dan tidak boleh mencela satu sama lain. Biarpun beda pilihan tetapi kita tetap jaga ukuwah,” imbuhnya.

Baginya, kedua Capres- Cawapres yang akan bertarung di Pemilu 2019 mendatang tersebut merupakan calon pemimpin hingga 5 tahun kedepan. Kedua pasangan juga tentunya memiliki kemanpuan dan kekurangan masing-masing pada diri mereka.

Harus dipahami pula, semakin besar kapasitas kepemimpinan seseorang, semakin besar juga bentuk pertanggung jawabanya. Bentuk pertanggung jawaban itu, tidak hanya kepada sesama. Tetapi juga kepada sang Pencipta.

” Kualitas kepemimpinan banyak ditentukan adanya keselaraaan kata dan perbuatan. Pemimpin juga manusia karena ada potensi fujuraha wa taqwaha padanya. Potensi kebaikan dan potensi destruktif. Jadi tugas kita adalah mengingatkan, dan mengoreksi secara bersama, disaat pemimpin melakukan kesalahan,” demikian Juadi. (K.SZI)