Empat Orang Meninggal Dunia Dalam Musibah Gempa KSB

KMCNews, Taliwang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbawa Barat merangkum ada sebanyak 4 orang korban meninggal dunia akibat guncangan gempa bumi berkekuatan 6,9 SR pada Minggu Malam (19/8) lalu.
Tiga orang di antaranya warga Kecamatan Seteluk dan satu orang warga Kecamatan Taliwang.

” Kita juga mencatat ada sebanyak 9 orang yang mengalami luka berat dan 59 orang yang mengalami Luka ringan,” kata Kepala BPBD KSB, Ir. LM Azhar, MM, dalam keterangan persnya di Posko Utama Penanggulangan Bencana Alam Gempa di halaman Kantor BPBD setempat, Senin Sore (27/8).
Dihadapan Bupati dan Wakil Bupati, Dandim, Kapolres dan Sekda setempat, L. Azhar menyebutkan selain meninggal dunia, dampak terparah bencana gempa tersebut telah mengakibatkan 15.361 Kepala Keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal dan harus mengungsi karena rumahnya mengalami kerusakan mulai dari rusak berat, rusak sedang hingga rusak ringan.

” Rumah warga yang tercatat mengalami rusak berat ini terbanyak di Kecamatan Seteluk dengan jumlah 1,065 unit rumah, Poto Tano 585 rumah, Brang Rea 395 rumah, Taliwang 193 rumah Brang Ene 41 rumah, Maluk 28 rumah, Jereweh 16 rumah dan 3 unit rumah di Kecamatan Sekongkang. Sehingga total rumah yang mengalami rusak Berat mencapai 2.326 unit, “jelasnya.

Ia juga mengatakan, jajarannya bersama TNI dan Kepolisian telah menyalurkan bantuan yang dibutuhkan, antara lain makanan, air minum, tenda, dan obat-obatan. Seluruh infrastruktur seperti jalur komunikasi, jalan, listirk dan lainnya secara umum masih berfungsi baik.

” Terkait dengan penyaluran bantuan ini kita menyerahkan langsung kepada posko Kecamatan. Pihak kecamatan yang meneruskan pendistribusiannya ke masing-masing desa untuk kemudian disalurkan ke warga yang benar-benar membutuhkan,”imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Sumbawa Barat, DR. Ir. H. W Musyafirin, MM, menyatakan bahwa proses pendataan sudah rampung. Hanya saja, khusus untuk jumlah warga yang mengungsi karena kehilangan tempat tinggal yang mengalami kerusakan akibat gempa, agar dilakukan penghitungan yang benar – benar berbasis data dari Kartu Keluarga dan KTP.

“Ini penting mengingat jumlah anggota setiap keluarga berbeda-beda. Datanya tidak bisa dirata-ratakan karena ini menyangkut bantuan. Jadi datanya harus benar-benar riel by name by adres,” cetus Bupati.
Bupati juga meminta agar para pihak yang terkait tidak hanya berfokus pada pemulihan infrastruktur pasca gempa saja, namun juga pemulihan psikologis korban terdampak. Jangan sampai mereka mengalami stres maupun depresi, terutamanya dikalangan anak-anak sekolah. Oleh sebab itu dia menganggap trauma healing sangat penting di laksanakan agar kepanikan bisa berkurang dan mempermudah proses penanggulangan gempa secara komprehensif.

” Trauma healing ini juga perlu dilakukan untuk membangun kembali mental para korban pasca gempa yang terjadi kemarin. Ini juga agar tidak ada trauma berlebihan,” pungkas Bupati. (K. SZI)

Beri Komentar Di Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *