Di KSB, Kasus Kekerasan Terhadap Anak Masih Mendominasi

KMC News, Taliwang – Kasus kekerasan terhadap anak masih terus terjadi di wilayah Kabupaten Sumbawa Barat. Berdasarkan pendataan Dinas Sosial (Disos) setempat, sedikitnya terjadi lima kasus kekerasan terhadap anak sejak awal tahun ini.

Sekretaris Disos Kabupaten Sumbawa Barat, Manurung, S. Pd mengakui, kekerasan terhadap anak memang selalu terjadi. Hal itu akibat berbagai hal, seperti faktor ekonomi, ketidakharmonisan rumah tangga, hingga faktor lingkungan yang buruk.

“Dari kekerasan terhadap anak itu, banyak di antaranya yang merupakan kekerasan seksual,”ujarnya.

Ia tak menampik jika pelaku kekerasan terhadap anak tersebut sebagian besar dilakukan oleh orang-orang yang dekat dengan anak, bahkan dari lingkungan keluarga atau tetangganya sendiri. Ketika menyangkut anggota keluarga, maka yang terjadi kasus kekerasan tersebut cenderung ditutupi karena dianggap sebagai aib keluarga.

“Ketika kasus kekerasan yang dialami tidak dilaporkan, maka sesungguhnya anak tidak mendapatkan perlindungan yang semestinya. Anak pun semakin menjadi korban,” terangnya.

Anak korban kekerasan lanjut Manurung selalu mengalami trauma yang tidak mudah untuk disembuhkan. Karena itu, dalam setiap proses rehabilitasi terhadap korban kekerasan anak, pihaknya selalu hadir secara aktif.

“ Kita hadir secara aktif dan berkesinambungan dalam proses rehabilitasi anak yang mengalami trauma ini karena tidak mungkin dilakukan oleh keluarga atau orangtua anak secara sendiri.

Apalagi rehabilitasi trauma yang dialami anak itukan sifatnya sangat kompleks. Tidak hanya menyangkut trauma fisik tetapi juga psikologi,”imbuhnya.

Dalam kacamata sosial, Manurung menilai penyebab kekerasan terhadap anak tidak tunggal, namun kompleks. Selain pola asuh dan kegagalan keluarga memiliki kontribusi anak menjadi pelaku dan korban kekerasan. Termasuk penyebab lainnya seperti sosial ekonomi, sosial budaya, serta pendidikan dan agama.

” Untuk mengatasinya, masyarakat perlu bergandengan tangan dengan pemerintah guna mengepektifkan sosialisasi dan mengedukasi tentang pola pengasuhan dan pendidikan anak tanpa kekerasan. Ini penting mengingatkan kekerasan terhadap anak akan membawa dampak yang buruk bagi tumbuh kembang anak, “demikian Manurung. (K1)