Curhatan Sejumlah Guru di KSB, Anggap Kami Seperti Sopir Truck

KMCNews – Nasib sejumlah tenaga pengajar di Kabupaten Sumbawa Barat ditengah Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) benar-benar diuji dan harus siap tahan banting, terutama yang berdomisi diluar KSB.

Bukan hanya melawan agar terhindar dari Covid-19, para guru ASN terutama kaum ibu, dihadapkan pada persoalan terpaksa meninggalkan keluarga tercinta, suami, orang tua, dan anak-anaknya yang butuh perhatian ekstra ditengah Pandemi Covid-19 ini, demi mengabdi wajib masuk Sekolah mengikuti prosedur dan protokol Pemerintah.

Wajib masuk sekolah meski siswa sudah diliburkan sejak 2 Maret lalu, dirasakan Rindiani (bukan nama sebenarnya) salah satu Guru SD di Kecamatan Poto Tano, cukup memberatkan.

Ia bersama belasan guru ASN lainnya yang secara kebetulan saat ini belum berdomisili di KSB, terpaksa harus menetap di KSB sejak Pandemi Covid-19, karena adanya larangan Pulang-Pergi dan dipantau di pos jaga perbatasan KSB.

Rumah teman, kos hingga gedung dan perpustakaan sekolah pun akhirnya terpaksa dijadikan sebagai tempat tinggal sementara di KSB, sementara disisi lain  keluarganya di rumah membutuhkan perhatian serius ditengah wabah Covid-19 ini.

“ Yang paling memprihatinkan ada rekan guru yang terpaksa meninggalkan istrinya padahal baru selesai persalinan sesar, kemudian ada juga teman yang punya bayi usia 3 bulan dan masih menyusui terpaksa harus tinggal di perpustakaan Sekolah, “ ungkap Rindiani.

Mewakili perasaan teman-temannya yang lain, Rindiani juga menyampaikan curhatan guru yang masih harus banting tulang mencari kerja sampingan dengan bertani misalnya, terpaksa lahannya tak terurus dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir.

Sementara ia sendiri mengaku dari sebelum dan setelah keluarnya protokol Pemerintah,  sudah 2 bulan tidak bisa pulang ke Sumbawa guna menjenguk dan melihat suami dan orang tua yang sudah lanjut usia terutama saat ini bulan puasa.

“ Harapan kami, kalau memang wajib masuk sekolah paling tidak diberikan surat jalan sebagai keterangan kami di pos jaga agar bisa pulang pergi lihat keluarga, anggap saja kami ini supir truk, bus yang setiap hari Pulang Pergi, ya semoga kami diberikan kebijakan khusus yang dari jauh melaksanakan tugas instansi dari rumah tanpa harus meninggalkan keluarga, toh siswa juga tidak ada di Sekolah, padahal dengan kita masuk sekolah juga tidak mengubah keadaan, justru yang ada kekhawatiran karena tetap keluar rumah bahkan jauh dari keluarga,” pungkas Rindiani.

Wakil Bupati Sumbawa Barat, Fud Syaifuddin,S.T dikonfirmasi terkait kebijakan terhadap guru yang tetap masuk sekolah lebih khusus guru yang masih berdomisili di luar KSB ini mengatakan, masalah ini harus dibicarakan dengan Bupati.

“ Karena kita semua berharap yang bekerja di KSB tinggal dan ber KTP KSB, resiko di tengah Covid-19 dan semua orang pasti mengelu tapi kita harus mengikuti protokoler pemerintah, jangan sampai menyesal setelah semua terjadi,” demikian tandas Wabup KSB, kepada KMCNews, Sabtu (2/5/2020).(K-1)