Cerita Gempa Dari Bawah Tenda Biru

KMCNews, Taliwang – Wilayah geografis Indonesia memang berpotensi mengalami gempa bumi. Gempa yang terjadi bukanlah sekedar fenomena alam. Namun ada skenario Sang Khaliq Allah SWT dibalik semuanya. Segala bencana alam yang terjadi bertubi-tubi ini semakin menandakan kekuasaan Allah yang begitu besar, yang tak mampu diubah sedikitpun.

Manusia tidak bisa memilih kekuatan gempa atau wilayah mana yang akan terkena gempa. Mereka tidak bisa memilih diantara kejadian tersebut, namun mereka diminta untuk menerima keputusan Allah yang ditetapkan atasnya. Mereka juga perlu mengingat bahwa tidak ada kejadian di bumi ini melainkan atas pengetahuan Allah. Sehelai daun yang jatuh ke tanah saja berada dalam genggaman urusan Allah, apalagi bencana alam sedahsyat gempa. Pun bagi seorang muslim sudah selayaknya mereka merenung, bermuhasabah diri. Adakah bencana datang untuk menjadi peringatan, teguran atau ujian cinta dari Allah SWT ?

Berikut liputan khusus Sutan Zaitul Ikhlas, Pimpinan Redaksi (Pimred) KMC News tentang kepanikan dan kesabaran warga atas gempa yang mengguncang “Bumi Paleba” Senin (19/8) malam.

Lantunan Surah al-A’raf berkumandang disebuah tenda biru di gang sempit lingkungan Menala Kelurahan Menala Kecamatan Taliwang Sumbawa Barat, Senin malam (29/8).

Surah yang di lantunkan Jhoni Rizki itu sedikit meninggi tatkala memasuki ayat ke 155 tentang gempa dan musibah lainnya. Lantunannya teduh menggema, membelah malam hingga menerobos masuk ke bilik-bilik tenda sempit berdinding terpal vinil.

Sesaat kemudian Jhoni Rizki terdiam , ditutupnya kitab suci Al_quran yang dibacanya sejak pukul 02.30 Wita dini hari.
Sembari membenarkan letak duduk, ia memanggil saudari dan dua orang sepupunya.
Hidangan telah tersaji di tengah tenda.Usai membaca doa, keluarga kecil itu menyantap menu Sahur yang sederhana.

” Besok puasa Mas, lusanya lebaran (Idul Adha),”katanya kepada KMCNews yang kebetulan berdekatan Tenda dengan Pemuda lajang itu.

Sahur di dalam tenda menurut Jhoni memberikan suasana baru. Susananya campur aduk, ramai-ramai sedih dan bercampur khawatir.

” Meski Sahur tadi makannya seadanya, tapi niatnya yang paling penting. Ditengah bencana ini kita meski banyak bersabar,” timpalnya.

Jhoni mungkin salah satu dari warga yang sangat sabar menghadapi kepanikan yang terjadi malam itu. Guncangan hebat yang terjadi di terima nya sebagai ujian dari Allah. Ia yakin, bagi mereka yang berhasil atas ujian itu adalah mereka yang mampu bersabar.
Sembari nenyerumput kopi hitam kegemarannya, Jhoni menceritakan bagaimana kepanikannya saat gempa mengguncang.

Ketika itu selepas pulang beraktifitas saudari perempuannya diminta untuk membuat segelas kopi hitam.

Namun begitu guncangan hebat terasa, sontak ia berteriak meminta saudari perempuannya keluar dari rumah.

” Saya berlari kearah pintu sesaat sebelum lampu dipadamkan. Saya sempat mendengar suara tembok mengerek untuk kemudian berlari ke arah lapangan,” bebernya, Sembari menggenggam kuat tangan saudari perempuan saya itu, dilapangan puluhan warga lainnya sudah berkumpul. Suasana panik, terdengar suara teriakan gempa. Sementara diarah lainnya suara warga melantunkan azan dan zikir mengumandang untuk menenangkan diri,” imbuhnya.

Meski mengaku tidak mengalami kekurangan selama di tenda. Namun kekhawatirannya terhadap gempa susulan terus berkecamuk. Termasuk isu maling yang berseweleran ditengah warga pun menambah daftar kegelisahannya.
Hingga Adzan Subuh terdengar, Jhoni mengakhiri ceritanya. Udara masih terasa dingin. Ia beranjak pamit ke Masjid sembari minitip pesan, ‘Tidak ada pertolongan, kecuali dari-Nya.

Di saat-saat genting itulah, tabir kepalsuan kekuatan makhluk tersingkap. Tidak ada kekuatan kecuali dengan kekuatan Allah. Tidak ada daya kecuali daya-Nya. Dan tidak ada tempat perlindungan kecuali kepada-Nya.(D K)