fbpx

Budidaya Ikan Keramba di DAS Taliwang Sudahkah Aman ?

Niat baik Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, dalam peningkatan ekonomi masyarakat perlu diberi apresiasi, salah satunya dengan upaya pemberian bantuan ikan dan keramba bagi masyarakat.

Tak heran, masyarakat penerima bantuanpun begitu sangat antusias berpartisipasi merespon kebijakan yang dinilai mereka sangat positif tersebut, terlebih sebagai upaya peningkatan ekonomi keluarga.

Namun yang menjadi persoalan sekarang, apakah sudah dikaji lebih jauh tentang program tersebut, terutama keberlangsungan dalam jangka panjang.

Mengingat data sebelumnya menunjukkan jika Daerah Air Sungai (DAS) Brang Rea dan Taliwang, diduga kuat mengandung Logam Berat yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Bahkan Pemerintah setempat sebelumnya, juga dikabarkan telah melakukan pengujian termasuk terhadap DAS dari hulu ke hilir.Pengujian dilakukan Pemerintah tersebut dilakukan, mengingat adanya aktivitas tambang rakyat selama ini yang diduga mempengaruhi kondisi air dan udara.

Media mencatat, dari hasil penelitian sebelumnya yang melibatkan Laboratorium Peneletian dan Pengujian Terpadu (LPPT) Universitas Gajah Mada (UGM) menyatakan, hampir dipastikan kondisi air sungainya sudah ada kandungan logam berat.

Lalu sekarang apakah logam berat itu, pemerhati lingkungan Ir. Pranoto, M.Si, dalam artikelnya yang bisa kita akses di Internet berjudul Pengaruh Pencemaran Air oleh Logam Berat Terhadap Manusia menyatakan, Logam berat merupakan istilah yang digunakan untuk menamai kelompok metal dan metalloid dengan densitas lebih besar dari  6 g/cm3. Jenis-jenis logam tersebut meliputi : Merkuri (Hg), Timbal (Pb), Arsen (As), Kadmium (Cd), Khromium (Chromium), Cuprum (Cu), dan Nikel (Ni). Logam-logam tersebut sering dihubungkan dengan adanya masalah pencemaran dan toksitas perairan, karena keberadaannya yang membahayakan dan sering mencemari lingkungan baik berupa pencemaran udara maupun pencemaran air.

Sejauh itu logam berat yang sering mengkontaminasi air yaitu merkuri dan timbal. Ikan yang mengkonsumsi merkuri dan timbal tidak mampu menguraikannya, sehingga apabila ikan tersebut dikonsumsi, juga masih mengandung merkuri dan timbal yang membahayakan bagi manusia.

Lebih lanjut dikatakan, bahwa limbah mercuri yang terbuang ke sungai, danau dan laut dapat mengkontaminasi ikan-ikan dan makhluk air lainnya seperti ganggang dan tanaman air, ikan-ikan kecil dan makhluk air lainnya yang telah terkontaminasi merkuri dimakan hewan air yang lebih besar, atau merkuri masuk ke tubuh melalui insang.Sementara merkuri masuk kedalam tubuh manusia dapat lewat udara, air atau makanan yang terserap dalam jumlah yang bervariasi.

Biota air yang paling banyak mengkonsumsi merkuri adalah ikan dan kerang.Dikatakan, manusia tidak dapat mengolah bentuk bentuk merkuri monometil sehingga merkuri tersebut tinggal dalam tubuh relative lama, tinggal dalam hati, ginjal, otak dan darah yang dapat menimbulkan dampak kesehatan akut dan kronis.

Sementara, logam berat timbal dapat tersimpan dalam tulang dan dapat mempengaruhi kesehatan secara menyeluruh selama masa ketegangan atau stress, kehamilan, penderita osteoporosis.Dampak utama pencemaran timbal dalam dosis yang banyak dapat berpotensi menggangu kesehatan antara lain, kelambanan saraf dan fisik pada anak, keguguran kandungan,kerusakan system reproduksi pada pria, penyakit saraf, perubahan daya piker, tekanan darah tinggi dan anemia.

Lalu sekarang masalahnya, apakah pemerintah dalam hal ini Dinas terkait sudah benar –benar yakin dengan kondisi air terutama DAS bebas dari bahan logam berat tersebut, ataukah program budidaya ikan air tawar ini hanyalah program yang dibuat asal bapak senang, atau asal jadi proyek. Dan tidak adakah cara lain dalam budidaya ikan yang layak dikembangkan dan relatif lebih aman.

Sepertinya perlu kajian lebih jauh terutama pengaruh dalam jangka panjang, baik dari sisi ekonomi maupun kesehatan.Wallahualam.

%d bloggers like this: