oleh

Berang Salaki, Lambang Martabat Laki – Laki Sumbawa

Oleh : Bambang Hardi Sasbita

Ragam dialektika sosial dan budaya seperti mencerminkan Diri pelakunya sebagai manusia dengan pribadi yang mahir dalam mengkolaborasikan diri dengan alam sekitar.
Entah ini sebuah kebetulan atau memang duet antara Manusia dalam Alam akan begitu romantis jika keduanya saling menyelaraskan dalam interaksi.

Manusia sumbawa mencoba memahami lingkungannya sebagai nilai syukur kepada Tuhan. Yang kemudian Alam juga seperti telah menyediakan ruang bagi para pewaris suatu kebudayaan masyarakat agar pesan moral berupa nilai-nilai Budaya yang tertuang dalam karya Budaya leluhurnya tidak musnah dilintasi waktu . Sehingga hubungan antara leluhur, Alam, dan pewarisnya seolah terhubung satu sama lainnya .

Pewarisan nilai-nilai tersebut haruslah diterima dengan hati terbuka. Agar penghayatan terhadap nilai-nilia budaya mutlak dilakukan, karena nilai-nilai tersebut menjadi ciri identitas masyarakat yang berkaitan erat dengan otentisitas perilaku atau visi hidup masyarakat pewaris budaya lokal tersebut.

Pentingnya memahami ‘nilai-nilai budaya’ sebagai energi sosial yang mendorong kreativitas dan inovasi masyarakat yang akan turut membentuk karakteristik manusia yang tergabung dalam satu komunitas masyarakat menuju ke arah yang lebih baik.

Sebagai salah satu peradaban yang terhitung cukup Tua Indonesia, manusia-manusia Sumbawa banyak melahirkan produk kebudayaan sebagai bahasa rasa yang dikongkritkan dalam ragam pola tindak. Dalam caratan yang cukup diakui kebenarannya, Manusia sumbawa di perkirakan telah membangun peradaban pada abad ke 14.

Disebutkan oleh LALU MANTJA dalam bukunya “ Sumbawa Pada Masa Lalu” bahwa peradaban kerajaan Dewa Awan Kuning disumbawa telah menjalin hubungan dengan kerajaan Majapahit diantara Tahun 1331-1364. Artinya manusia-manusia di Sumbawa telah ada dan membangun peradabannya dipulau Sumbawa pada abad itu atau bahkan bisa jadi jauh sebelum masa itu. Sehingga tak heran dengan usia peradaban manusia disumbawa yang cukup tua itu kemudian melahirkan aneka ragam bentuk kebudayaan.

Itulah kenapa jika banyak sekali kebudayaan Tau Tana Samawa dalam berbagai aspek yang dapat kita eksplorasi. Sebab Tau tana samawa telah memiliki cara tersendiri untuk mengimplementasikan kebudayaan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu Wujud nyata dari ragam budaya Tau tana samawa (orang sumbawa) untuk merespons alam sekitar, Tau Tana Samawa membuat alat untuk menunjang kehidupannya yang sarat akan nilai-nilai spiritual dan filosofis yaitu BERANG SALAKI .

Disumbawa sendiri, Senjata tradisional masih menjadi salah satu unsur budaya paling unik . Berang merupakan salah satu senjata khas Tau Tana Samawa yang tak pernah lepas dari kehidupan Tau Tana Samawa pada umumnya. Uniknya, berbeda dengan keris atau kujang dari Jawa Barat yang melambangkan citra maskulin untuk sipemakai, Berang justru sarat akan nilai-nilai “kejantanan” bagi pemiliknya.

Hal itu yang membuat eksistensi Berang masih sering terlihat pada aktifitas sehari-hari penduduk asli Sumbawa. Terkhusunya dikehidupan masyarakat yang mendiami perkampungan yang ada disumbawa. Dalam budaya sumbawa, Berang dilambangkan sebagai simbol kesempurnaan, kejayaan, kekuatan, dan juga ketinggian spiritualitas. Meski di zaman milenial ini, pemahaman orang-orang tentang Berang telah bergeser jauh, hanya dipandang sebagai karya masa lampau bahkan terkesan kuno. Padahal Berang mengandung nilai-nilai filosofis yang luar biasa. mulai dari proses pembuatannya, bahan-bahan yang dipakai dan ketinggian makna dari pola seni ukir yang digoreskan pada gagang dan sarungnya .

Sehingga sebuah Berang menjadi simbol jati diri sang Empunya . Dimana hal-hal semacam ini lepas dari pengamatan orang-orang yang hidup diera Sekarang pada umumnya sebagai bahan pengakajian akan nilai moral leluhur Tau Tana Samawa Dulu yang coba disampaikan lewat sebuah karya budaya . Inilah sebabnya pemahaman falsafah atas budaya Tau Tana Samawa hanya sedikit yang bisa tersampaikan dengan baik kepada generasi penerusnya kini .

Andai dicermati dengan baik , kehadiran Berang Salaki sebagai bagian dari Tau Tana Samawa menjadi penjelas akan kayanya nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah produk kebudayaan . Tentu hal ini akan turut membentuk karakter si Pemakai. Sehingga bagi orang yang sudah benar-benar memahami nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah Berang, tak jarang orang itu akan menjadikan Nilai-nilai Yang ada Dalam berang sebagai prinsip dalam setiap pola pikir dan pola tindak sipemakai.

Oleh karenanya dari proses awal pembuatan dari penempaan Besi hingga melahirkan sebuah Berang lengkap dengan sarung dan gagangnya, akan begitu perhitungkan segala sesuatunya. Dimana Panre Besi ( pandai besi ) secara berkelompok, ketika akan membuat Sebuah Berang akan memperhatikan waktu yang pas untuk memulai penempaan. Biasanya seorang pandre Besi akan memulai pembuatan Sebilah Parang pada “ masa Kamar” yakni tepatnya usia ke 27 bulan dalam hitungan penanggalan Orang sumbawa . Pada saat pembuatanpun seorang Pandre Besi akan benar-benar menjaga lahir dan batinnya agar tetap bersih. yaitu dengan menjaga Wudhu, tidak bersenggama dengan istri sampai dengan berpuasa selama proses pembuatan Berang.

Totalitas dalam melahirkan sebuah karya cipta yang dikaitkan dengan spritualitas dipercaya akan mendatangkan Ridha dari Tuhan dan kebarokahkan tindakan. Adanya proses ritual semacam itu dikarenakan selain sebagai alat pertahanan diri , seorang pandre Besi paham betul bahwa melalui Berang Harkat dan martabat pemiliknya akan tercerminkan .

Selain daripada Beberapa ritual khusus diatas, juga disertai dengan membacakan doa dan mantra-mantra yang berisikan permohonan petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberi kelancaran dalam pembuatan. Dalam hal ini menunjukkan bahwa intelektual masyarakat Sumbawa dalam mengekspresikan diri untuk melahirkan sebuah karya budaya diperlukan pemahaman agama sebagai landasan berpikir untuk melahirkan sebuah produk kebudayaan. .

Dimana dalam Hal ini juga Menegaskan begitu pentingnya peran penting Seorang Panre Besi . Oleh sebab itulah profesi pandai besi dianggap sebagai pekerjaan penuh prestis di wilayah sumbawa . Dalam budaya sumbawa sendiri, profesi panre besi begitu dihormati dikarena banyaknya persiapan dan ritual yang juga mencerminkan religiusitas yang harus mereka lalui sebelum satu Berang dibuat.

Proses pembuatan yang begitu sakral dari penempaan Besi mentah Sampai menjadi bilah besi bakal Berang biasanya memakan waktu satu sampai dua hari. Selama proses pembuatan tersebut, seorang Pandre besi akan sangat memperhitungkan segala sesuatunya. Baik dari Bahan yang digunakan, sampai rentetan proses pembuatan begitu benar-benar sangat diperhatikan segala sesuatunya.

Berangkat dari penuturan seorang pandre Besi, bahwa zaman dulu orang yang memiliki berang hanya orang-orang tertentu saja. Mengingat begitu sulitnya mendapatkan besi sebagai bahan pembuatan berang. Oleh karenanya kehadiran besi menjadi hal istimewa dalam kehidupan Tau Tana Samawa dulu. Jadi Tak heran jika Besi dianggap sebagai anugerah dari Sang Pencipta untuk keberlangsungan hidup manusia.

BERANG BELO atau BERANG SALAKI atau di sebut juga BERANG PALANGAN begitu menjadi kebanggaan bagi Tuannya. Sehingga Dalam kebudayaan Tau Tana Samawa, mengenal Adab dalam memperlakukan Berang.

Seperti misalkan :

– Sebuah Berang tidak diperbolehkan orang lain untuk menarik keluar sebuah Bilah Besi Berang dari sarungnya kecuali sang pemilik.

– Berang Tidak boleh bergeletak ditanah, sebab itu sama saja dengan menjatuhkan harga diri Tuannya.

-Berang digantung agak lebih tinggi dari kepala pada Tiang Guruh ( Tiang Utama Rumah panggung ) Bermakna bahwa sang tamu harus menjunjung adab dan etika ketika memasuki rumah tersebut.

–Berang tidak boleh pegang oleh wanita Yang sedang dalam keadaan Haid.

-Berang di gantung agak lebih tinggi dari kepala. Bermakna bahwa sang tamu harus menjunjung adab dan etika ketika memasuki rumah tersebut.

-Bentuk gagang berang yang agak membungkuk , yang bermakna bahwa keramahan dan rasa tunduk pribadi rumah tersebut harus di hargai, karena di balik keramahan tersebut tersimpan sifat berani mati mempertahankan kehormatan meskipun harus berlaga bersimbah darah.

-Berang adalah senjata pribadi yang tidak boleh satupun orang yang boleh menarik keluar dari sarungnya kecuali sang pemilik.

– Ketika di keluarkan dari sarungnya, artinya keadaan tersebut sudah tidak bisa di tawar-tawar lagi / SEJARI SETATA, maka Pantang bagi pemiliknya memasukannya kembali tanpa mengenai musuh terlebih dahulu.

Adanya Adab dan etika perlakuan khusus terhadap berang adalah sebagai penghormatan kepada sebuah karya yang didalamnya terdapat implementasi identitas diri karena bagi orang sumbawa sendiri kehormatan dan martabat adalah harga mati.

Produk-produk Kebudayaan yang berakar dari rasa ingin memahami alam yang kemudian memicu pola tindak untuk melahirkan karya , merupakan suatu proses yang tidak terpisahkan dari kehidupan Tau Tana Samawa.Nilai-nilai kebudayaan yang ada termanifestasi dalam bentuk spirit yang menunjukkan ciri khas dari Tau Tana Samawa dan membedakan Tau Tana Samawa dengan suku bangsa lainnya.

Berang sebagai bentuk manifestasi spirit Tau Tana Samawa yang mengandung kebijakan hidup dan pandangan hidup sipemakainya. Pada umumnya mengandung etika dan nilai moral yang menentukan bagaimana si pemakainya dalam bertindak, berperasaan, dan memandang dirinya serta orang lain .

Sehingga eksistensi Berang ini sendiri mempengaruhi karakteristik sipemakai . Karena berang dan pola tindak sipemakai adalah dua mata koin yang tidak bisa dipisahkan . Ibarat berang adalah Tubuh dan pola tindak Pemakai adalah ruh nya. Sehingga Dalam Kebudayaan Tau Tana Samawa keromantisan keduanya sangatlah bermakna sebagai hasil dari sebuah peradaban manusia.

Kearifan lokal Tau Tana Samawa akan kehilangan Arti sebagai identitas tanpa pengenalan serta penerapan nilainya dalam kehidupan . Sehingga memang diperlukan kesadaran dari dalam diri individu untuk diterjemahkan kedalam kehidupan sehari-hari .

Walaupun ada upaya pewarisan kearifan lokal dari generasi ke generasi, tidak ada jaminan bahwa kearifan lokal akan tetap kukuh menghadapi globalisasi yang menawarkan gaya hidup yang makin pragmatis dan konsumtif.

Secara faktual dapat kita saksikan bagaimana kearifan lokal yang sarat kebijakan dan filosofi hidup nyaris tidak terimplementasikan dalam praktik hidup yang makin pragmatis. Tindakan menyeleweng dari aturan adat dan negara yang merajalela hampir di semua level adalah bukti nyata pengingkaran terhadap kearifan lokal yang mengajarkan akan keutamaan beradab.

Penulis adalah Pemerhati Sejarah dan Budaya Samawa

Komentar

Komentar Anda

Berita Lainnya