Begini Tanggapan Syarikat Islam Terkait Rekomendasi 200 Muballigh

KMCNews, Jakarta – Terkait dengan dirilisnya Rekomendasi Daftar 200 Muballigh atau Penceramah Islam Indonesia oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI, Dewan Pimpinan Pusat Syarikat Islam (DPP-SI) menyampaikan tanggapan.

Menurut Ketua Umum DPP SI, Prof. Dr.Hamdan Zoelva, MH bahwa begitu banyaknya Alim Ulama dan para As-Satidz yang telah berjasa dalam konteks membangun iklim kehidupan keberagamaan Islam di Tanah Air, sejak masa prakemerdekaan hingga zaman kekinian, yang mereka dengan latar keberadaannya masing-masing tidak pernah membutuhkan adanya pengakuan dari negara, tetapi dengan tulus ikhlas menghadirkan diri selaku Khadimul-Ummah, adalah menjadi bagian yang menyatu dengan keberadaan ummat Islam dan bangsa Indonesia itu sendiri.

Karena itu, menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut, terbitnya daftar muballigh yang oleh Kementerian Agama mewakili negara, secara langsung atau tak langsung telah menganggu suasana kebatinan ummat Islam dan menciderai perasaan alim-ulama dan atau muballigh yang tidak termasuk dalam daftar tersebut.
Padahal menurutnya, ribuan Alim Ulama telah menjalankan perannya melayani lebih 150 juta umat Islam di Indonesia.

Dikatakan, Hamdan lagi dalih yang digunakan bahwa selama ini Kementerian Agama sering dimintai rekomendasi mubalig oleh masyarakat sehingga dipandang perlu untuk merilis daftar nama mubalig tersebut , seperti dijelaskan oleh Menag di Jakarta, Jumat (18/5/2018) sebagaimana dirilis oleh Kemenag adalah tidak relevan dan mengada-ada sebab ummat dan ulama memiliki kedekatan.

“ Rekomendasi itu mengindikasikan bahwa selama ini seolah-olah hanya terdapat 200 orang alim-ulama assatidz di Indonesia yang dipandang memenuhi tiga kriteria yang ditentukan, yaitu mempunyai kompetensi keilmuan agama yang mumpuni, reputasi yang baik, dan berkomitmen kebangsaan yang tinggi.Ini juga mengartikan bahwa Alim Ulama di luar nama yang 200 orang itu menjadi potensial bisa dicurigai sebagai ulama ustadz yang membuat masalah dan tidak cinta NKRI, dan seterusnya,”ujar Hamdan Zoelva.

Dikatakan lagi, untuk tidak memperlarut polemik sebagaimana dua-tiga hari ini terjadi dan kecenderungan terbelahnya cara pandang masyarakat yang dapat mendorong kepada sikap apriori atau antipati terhadap Pemerintah Republik Indonesia, terutama yang mungkin akan disuarakan oleh para Alim Ulama dan As-Satidz, dan dapat mengarah kepada perpecahan, DPP SI meminta agar Rekomendasi Kemenag tentang Daftar 200 Muballigh Penceramah itu dicabut atau dibatalkan.

“ Kami memahami bahwa ada keinginan pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Agama Republik Indonesia untuk melakukan pendataan para pegiat dakwah di Tanah Air sebagaimana telah diwacanakan, akan tetapi hendaklah hal itu dilakukan dengan cara yang penuh hikmah dan bijaksana melalui sebuah proses dan sosialisasi yang tersistematisasi secara baik,” tandas Hamdan Zoelva.

“Kami sarankan agar kegiatan yang bermaksud menelusuri ihwal keberadaan dan kompetensi setiap muballigh/penceramah tersebut dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia, bukan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia,”tambahnya.

Kalau dimaksudkan untuk memberi kemudahan bagi masyarakat dalam mencari muballigh atau penceramah, Hamdan Zoelva menyarankan agar sejatinya pemerintah cukup membuat daftar alim ulama atau assatidz yang dimasukkan ke dalam Web Site Kemenag dan Web Site Kanwil dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, sehingga masyarakat mudah mengaksesnya.(K1)