oleh

Peradaban Islam Taliwang Diduga Kuat Juga Tertua Di Indonesia, Ditemukan Makam Era Dinasti Ummayyah

Sumbawa Barat – Sebuah hal menarik terkait penyebaran Islam di Nusantara akankah terkuak di Taliwang.

Peradaban Islam di Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat Nusa Tenggara Barat diperkirakan sudah ada sejak abad ke 7 masehi, jaman dimana Dinasti Umayyah (661 – 750 Masehi) memimpin peradaban Islam dunia.

Peradaban Islam di Taliwang kemudian diperkirakan berkembang pesat bersamaan dengan lahirnya kerajaan Islam tertua di Indonesia yakni kerajaan Samudera Pasai di Aceh pada abad ke-13 Masehi (1297 – 1326).

Ini tergambar dengan ditemukannya puluhan makam dengan motif nisan dengan material batu granit yang memiliki kemiripan motif dengan makam di Zaman Dinasty Abbasiyah ( 750 – 1250 Masehi) dan Barus di Sumatera serta Samudera Pasai, di Komplek Pemakaman Masjid Jami Nurul Falah dan disejumlah titik di Taliwang pada bulan Mei lalu.

Di komplek pemakaman Masjid Jami Taliwang, ada salah satu nisan makam yang bertuliskan tahun 131 Hijriyah atau 749 Masehi, jika dirunut tahun tersebut transisi antara masa Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, maka sosok pemilik makam ini telah berada di Taliwang sejak Dinasti Ummayah dan meninggal jelang Dinasti Abbasiyah, diperkirakan sosok ini adalah penyebar Islam dari tanah Jazirah Arab.

Sedangkan makam dengan nisan bertuliskan tahun bersamaan dengan lahirnya kerajaan Samudera Pasai kini ada banyak ditemukan di lokasi yang sama di komplek pemakaman Masjid Jami Nurul Falah dan kini telah tertata rapi.

Makam Sepanjang 5 Meter Mirip Makam di Barus Tempat Islam Pertama Masuk di Indonesia

Kemudian menariknya di Taliwang tepatnya di Lingkungan Sebok, ada sebuah makam dengan panjang 5 meter jika melihat ciri makam tersebut, persis sama dengan makam para syeikh penyebar Islam pertama di Indonesia di Kota Barus Sumatera pada abad ke 7 Masehi.

Mencermati sejarah masuknya Islam di Indonesia ada beberapa teori, salah satunya teori arab (Mekah) yang bisa dihubungkan dengan makam yang ditemukan di Taliwang.

Teori ini diperkirakan berasal dari Timur Tengah, tepatnya Arab. Teori Arab (Mekah) ini didukung oleh J.C. van Leur, Anthony H. Johns, T.W. Arnold, hingga Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka.

Menurut Buya Hamka, Islam sudah menyebar di Nusantara sejak abad 7 M. Hamka dalam bukunya berjudul Sejarah Umat Islam (1997) menjelaskan salah satu bukti yang menunjukkan bahwa Islam masuk ke Nusantara dari orang-orang Arab.

Bukti yang diajukan Hamka adalah naskah kuno dari Cina yang menyebutkan bahwa sekelompok bangsa Arab telah bermukim di kawasan Pantai Barat Sumatera pada 625 M.

Di kawasan yang pernah dikuasai Kerajaan Sriwijaya itu juga ditemukan nisan kuno bertuliskan nama Syekh Rukunuddin, wafat tahun 672 M.

Teori dan bukti yang dipaparkan Hamka tersebut didukung oleh T.W. Arnold yang menyatakan bahwa kaum saudagar dari Arab cukup dominan dalam aktivitas perdagangan ke wilayah Nusantara.

Sebagian dari pedagang Arab tersebut kemudian menikah dengan warga lokal dan membentuk komunitas muslim. Mereka bersama-sama kemudian melakukan kegiatan dakwah Islam di berbagai wilayah di Nusantara.

Kemudian dilansir dari SindoNews, Sahabat Nabi juga berperan menyebarkan Islam di masa itu ke Nusantara, rombongan sahabat bertolak dari Ethiopia menuju negeri China.

Ketika melakukan perjalanan menuju China, para sahabat singgah di Kota Barus (kota pelabuhan di pantai Barat Sumatera Utara).

Mereka menebarkan risalah Islam hingga menyebar ke Aceh, pulau Jawa hingga ujung Papua. Bahkan dakwah para sahabat ini sampai ke Malaysia, Brunai Darussalam Filipina dan Thailand Selatan.

Inilah sejarah masuknya Islam ke nusantara disebarkan langsung oleh para sahabat Nabi. Jika ditanya kapan fase penyebaran Islam di Nusantara, maka jawabannya yakni abad ke 7 Masehi ketika rombongan sahabat Nabi datang ke Barus.

Menurut ulama ahli sejarah, sahabat Nabi yang menebarkan dakwah ke Indonesia melalui Barus yaitu ‘Abdurrahman bin Mu’adz bin Jabal dan puteranya Mahmud dan Ismail.

Mereka berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus sekitar tahun 625 Masehi. Atau bertepatan 10 tahun setelah hijrah pertama rombongan Nabi ke Habsyah pada tahun 615 Masehi. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkjan Qisshatud Dakwah fii Arahbiliyah (Nusantara), 1929).

Selain itu ada yang menyebut, sahabat nabi yang berdakwah ke Indonesia melalui Barus adalah Sa’ad bin Abi Waqos yang akhirnya wafat dan dimakamkan di Guang Zsu (Cina).

Jika mencermati sejarah diatas dan ditemukannya makam, diperkirakan masuknya Islam di Taliwang lebih dulu dari tanah Jawa dan Sulawesi.

Kembali ke Makam Masjid Jami

Tokoh Sejarah Sumbawa Barat M Sahril Amin adalah yang menemukan kembali nisan makam di Masjid Jami Taliwang, menurutnya penemuan ini disebabkan sebelumnya sudah ada satu dua makam dengan nisan bahan batu granit tegak berdiri ditempat itu, yang menurutnya salah satu diantaranya adalah leluhurnya Lalu Paewa Bin Mahmud, seiring pemahaman dan penelusuran sejarah yang dilakukannya dari berbagai sumber yang ada, pada bulan Mei tepatnya bulan Ramadhan lalu, ia bersama sejumlah rekan mencoba menggali sekitar komplek makam yang sudah tertimbun ratusan tahun tersebut, dan benar saja setidaknya ada lebih dari dua puluh nisan makam serupa ditemukan termasuk yang bertuliskan tahun 131 Hijriyah.

Kemudian mengenai pemaham terkait sejarah pemilik makam, Sahril Amin sangat yakin dengan sejarah Islam pada masa Dinasti Abbasiyah itu masuk ke Taliwang, beberapa sumber dan referensi baik teks book maupun sumber lainya yang ada telah dimiliki, termasuk pemahaman tentang Islam lebih dulu ada di tanah Taliwang daripada di Jawa dan Sulawesi.

Untuk mengungkap ini, Kamutar Telu Institute melalu Gusti Antoni mengatakan, perlu pembuktian dan dilakukan semacam riset.

Menurutnya ini sangat menarik jika ditelusuri dan akan menjadi potensi besar bagi Sumbawa Barat kedepan termasuk jika dihubungkan dengan sektor pariwisata dimana wisata religi juga memiliki basis peminat yang tidak sedikit.

“ Karena itu kami mendorong Pemerintah, baik yang ada di daerah maupun Pemerintah pusat untuk mengundang Arkeolog guna menguji nisan yang ada untuk memastikan keabsahannya dan mengungkap peradaban yang ada di masa lampau, ini sangat luar biasa dan kami siap bantu mensupport ini dengan juga membeberkan beberapa bukti sejarah yang ada,” katanya.

Seperti diketahui sebelumnya komplek makam Masjid Jami Nurul Falah Taliwang ini dengan adanya sejumlah makam dengan batu nisan yang memiliki keunikan yang tidak banyak ditemukan ditempat lain baik di Pulau Sumbawa maupun NTB secara keseluruhan, pada tahun 1977 pernah dilakukan penelitian oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa dan setelah itu kemudian ditetapkan sebagai Cagar Budaya, namun sayangnya KSB saat ini kurang memperhatikan ini dan melihatnya sebagai aset penting dalam mengungkap peradaban masa lampau di Taliwang khususnya.(K1)

Komentar

Komentar Anda

Berita Lainnya