10 Ton Perhari Warga KSB Konsumsi Ayam Potong

Belanja Mudah & Nyaman Kebutuhan Harian Anda Klik Disini // Iklan

KMCNews –  Jumlah konsumsi ayam potong di tengah-tengah warga Kabupaten Sumbawa Barat berkisar 10 ton perhari.

Jumlah yang relatif memang, jumlah tersebut dihitung dari data sejumlah pedagang ayam potong yang ada.

Salah satu pedagang Ayam Potong, Firman Jawaz mengatakan, setiap hari ayam potong datang dari Pulau Lombok berkisar antara 6000 – 8000 ekor ayam, jika tiap ekor ayam dengan berat 2 kg maka lebih dari 10000 kg (10 ton) perhari.

“ Maka perkiraan kami 10 ton rata-rata perhari, ayam potong beredar di KSB, baik yang beli itu untuk konsumsi perorangan, konsumsi rumah makan maupun warga yang tengah menggelar acara kemasyarakatan,” ujar Firman.

Dikatakan Firman, jika dihitung dengan harga Rp. 50 ribu perkilo ayam potong seperti harga beberapa pekan lalu, maka setiap hari ada Rp. 500 juta uang beredar dari usaha ayam potong di KSB.

Sayangnya menurut Firman lagi, mayoritas uang tersebut lari ke Pulau Lombok karena sebagian besar Ayam Potong sangat bergantung supply dari Pulau Lombok, sementara peternakan yang ada di KSB masih sangat terbatas dan ketersedian ayam potong lokal hanya mampu mencover untuk beberapa hari saja.

“ Ya kami berharap kedepan tumbuh peternakan ayam potong di KSB, sehingga kita tidak bergantung dari luar, sayang kalau uang lari keluar dan itu tidak sedikit jika diakumulasi perbulan itu cukup besar,”katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Firman berpandangan bisnis ayam potong di KSB cukup menjanjikan, seperti komunitas kecil sejumlah anak muda pedagang ayam potong di lingkungannya Kelurahan Arken misalnya, Firman mencontohkan,  berbekal modal awal yang pas pasan dan ditekuni secara serius, selama ini mereka bisa berpenghasilan minimal Rp. 5 juta bahkan sampai Rp. 10 juta sebulan.

Namun seiring waktu, ada ketidakadilan disitu karena terjadinya praktek monopoli, dan disinilah justru menurut Firman Pemerintah diharapkan hadir memberikan solusi nyata, misalnya mengatur kuota saat daging datang dari luar daerah, apalagi Pemerintah serius menyiapkan peternakan ayam bagi masyarakat sehingga pedagang pun bisa berjualan dan berkelanjutan karena potensinya besar.

“ Saat ini ayam yang dijual datang dari Lombok karena pasokan lokal minim sementara kebutuhan daging ayam besar, yang datang dari Lombok terkesan di monopoli atau dikuasai segelintir orang, padahal banyak orang bisa berpenghasilan disini semestinya,”tandas Firman yang diiyakan sejumlah rekannya pebisnis Ayam potong.(K-1)