oleh

Pengalaman Gempa Lombok, Jangan Lupa Mitigasi dan Evakuasi Mandiri

KMCNews, Taliwang – Warga masyarakat di wilayah Nusa Tenggara Barat diingatkan untuk terus meningkatkan kewaspadaan mengingat guncangan gempa masih terus terjadi. Minggu (2/9)pagi, gempa kembali terjadi dengan Magnitudo 5,3.Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilies, pusat gempa berlokasi pada titik koordinat 8,05 Lintang Selatan, 116,40 Bujur Timur, atau sekitar 38 kilometer timur laut wilayah Lombok Utara.

Beberapa waktu lalu BMKG Mataram juga merilis jangkauan tsunami bisa mencapai radius 5 kilometer dari pantai, jika terjadi gempa di laut Lombok dengan magnitudo 7,4. Perkiraan ini berdasarkan penelitian BMKG dan para ahli dunia.

Atas perkiraan tsunami 5 kilometer itu, peneliti tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi(BPPT), Widjokongko mengatakan, pemerintah harus sigap dengan hasil riset BMKG tersebut. Sebab, Widjo mengakui memang ada potensi tsunami yang terpicu gempa di Lombok.

“Gempa Bumi Lombok menunjukkan bahwa Sesar Busur Belakang Lombok-Sumbawa masih aktif dan karenanya juga berpotensi menimbulkan tsunami jika magnitudenya besar dan dangkal,” kata Widjo, seperti dilansir KMC News dari website VIVAco.id, Sabtu (1/9/18).

Untuk itu, dia menekankan, pemerintah harus segera meningkatkan kajian secara detail potensi sumber gempa bumi atau tsunami serta memetakan zona bahaya seberapa jauh dari landasan tsunaminya.

“Program mitigasi gempa bumi dan tsunami di wilayah Lombok harus dikuatkan,” kata dia.
Widjo mengingatkan pentingnya mitigasi bencana tersebut, sebab menurut hasil pengamatan di lapangan usai gempa melanda Lombok, program mitigasi gempa bumi dan tsunami di wilayah Lombok, khususnya bagian utara belum berjalan dengan baik.

Widjo mengingatkan potensi sumber gempa di Lombok memang harus terus mendapatkan perhatian lebih. Sebab, data menunjukkan sesar di Lombok masih aktif. Apalagi sesar ini tergolong panjang mulai dari Bali bagian utara hingga Flores dan terdiri atas beberapa segmen.

“Total panjangnya kurang lebih 1.100 kilometer mulai dari utara Bali, Lombok, Sumbawa, dan Flores,” jelasnya.

Dia juga menjelaskan, walau tak terus-menerus menimbulkan gempa, sejatinya sesar itu terus ‘hidup’.

Widjo menuturkan, Busur Belakang Lombok-Sumbawa bergerak kira-kira 10 milimeter per tahunnya dan menyodok ke selatan terus-menerus, meski tidak ada yang bisa memprediksi kapan dan di titik mana gempa bumi bakal terjadi.

“Jadi potensi gempa akan terus (ada). Saat ini gempa berkurang atau meluruh tapi sodokan itu terus (terjadi) dan akan menimbulkan potensi gempa bumi berikutnya,” ucapnya. (Amal Nur Ngazis/KMCNews)

Komentar

Komentar Anda

Berita Lainnya