Kisah Pengungsi Gempa KSB Melawan Dingin

KMCNews, Taliwang – Gelap dan dingin, hanya lampu neon berwatt rendah menerangi lokasi pengungsian korban gempa bumi yang tersebar di santero Kabupaten Sumbawa Barat. Lebih dari 42 ribu orang berlindung di tenda terpal buatan swadaya masyarakat ini tanpa dinding dan sekat yang kuat. Mereka mengalun mimpi dari balik selembar selimut, sementara fisik tetap awas manakala guncangan gempa susulan datang.

Senin (28/8), menunjukkan hampir pukul 20:00 waktu setempat, adalah malam ke 8(Delapan) warga Sumbawa Barat menginap di lokasi pengungsian. Beberapa warga terlihat masih terjaga. Syamsuddin, salah satu pengungsi, memilih berjalan ke luar tenda.

“Belum bisa tidur,” ungkapnya gelisah, sambil memandangi anaknya yang tengah makan malam di dalam tenda.

Ingatan tentang guncangan gempa susulan masih menahannya untuk tidur. Sebelumnya, Ahad (19/8)malam yang lalu, belasan kali guncangan gempa ia rasakan. Hal itu semakin membuat dirinya was-was.

“Itu sampai hampir Subuh. Belum lagi udara malam yang semakin dingin. Saya sampai tidak bisa tidur,” kisah Syamsuddin. Warga Desa seloto terletak di kaki bukit, sehingga udara dingin pegunungan begitu terasa.

Tak jauh dari lokasi pengungsian, dilapangan sepak bola desa seloto. Syamsuddin mengungkapkan, hampir semua bangunan berbahan dasar beton mengalami kerusakan parah, tak terkecuali rumah miliknya sendiri.

“Rusak semua. Rumah tetangga lainnya juga pada rusak. Ada yang hancur separuh. Cuma rumah kayu yang tidak rusak parah,” jelas Syamsuddin.

Saat menjelaskan keadaan rumahnya yang rusak , Syamsuddin mengingat kembali momen ketika ia berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya dari hantaman gempa.

Ketika itu, Ahad (19/8)malam, ia tengah berada dalam rumahnya. Seketika guncangan hebat mengejutkannya, disertai atap yang rubuh. Ia langsung menyelamatkan diri dan membawa anak serta istrinya ke luar rumah. Beberapa menit setelahnya, rumah itu langsung luluh lantak.

Tak ada harta benda yang sempat diselamatkan. Yang ia pikirkan saat itu adalah bagaimana menyelamatkan keluarganya.

“Saya mentingin nyawa, sudah tidak kepikiran harta benda. Aduh, itu kalau diingat lagi, kalau saja kita semua tidak langsung ke luar rumah, mungkin sudah langsung tertimbun beton rumah,” ungkapnya.

Pengungsi lainnya, idrus (50), juga tidak berani mengambil risiko untuk kembali ke rumah. Selain karena masih adanya gempa susulan, rumahnya kini hanya tinggal separuh sehingga tidak bisa ditinggali.

“Separuh rumah kami hancur, separuhnya lagi masih berdiri. Tapi tidak mungkin kami tinggal di sana. Takut kena reruntuhan, tidak aman,” tutur idrus, masih trauma.

Ia kembali membungkus tubuhnya dengan selimut. Di beberapa bagian tubuhnya terlihat luka goresan benda tumpul.

“Iya, ini bekas luka kena runtuhan tembok. Tapi alhamdulillah saya dan istri saya langsung menyelamatkan diri. Kalau sedikit saja telat, tidak tahu lah nasib kami,” kenang idrus.

Sampai kapan ia dan keluarga tetap bertahan di tenda pengungsian, idrus tidak memiliki rencana pasti.

“Pokoknya sampai gempa benar-benar berhenti. Mungkin akan lama di sini, tapi mau gimana lagi. Yang penting keluarga aman. Toh rumah kami juga tidak bisa ditempati. Belum tahu juga kapan akan renovasi,” ungkapnya meringis.

Ia kembali masuk ke dalam tenda, menempati sepetak kecil ruang untuk tidur bersama keluarganya. Di sekelilingnya, lansia, orang dewasa, hingga anak-anak berbaur berdesakan. Semua mencoba terlelap, dalam dingin dan perasaan awas bilamana gempa mengguncang kembali.(K D)

Beri Komentar Di Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *